Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer
Articles
Published: 30-05-2019

“Qoryah Thoyyibah” Sebagai Model Filantropi Islam di Kampung Maguwo Banguntapan

Universitas Jenderal Soedirman
community empowerment islamic philanthropy qoryah thoyyibah

Abstract

The movement of fund collection for well-being influences to community development. But public awareness to successfully of these activities is still a weakness because the distribution is more independently. The objective of this article is exploring the role of program Qoryah Thayyibah on the Al-Muthi’in Foundation with philanthropy movement and community empowerment strategy in Kampung Maguwo Banguntapan Bantul. The descriptive-qualitative method used to looking reality until we find different between desire and fact on Qoryah Thayyibah programFurthermore, collecting data used participant observation and in-depth interviews. The finding of this article looks at collecting to fund philanthropy regularly direct and indirect fundraiser. The direct is carried through a “door to door” program to find donors. Meanwhile, indirect through the program is a new enterprise established, i.e. founding of home production through collection commodity for sale. Their model is a charity to actualizing social justice. Therefore, philanthropy funds used to education, health, economic development, and da’wah (religious) activities. On the other hand, the philanthropy funds program is influencing to improve the ability of personality, enterprise, and institution capacity.

Gerakan pengumpulan dana untuk kesejahteraan (filantropi) berdampak signifikan terhadap pengembangan masyarakat. Namun kesadaran masyarakat untuk mensukseskan gerakan tersebut masih lemah, sehingga distribusi pengelolaan lebih banyak secara mandiri. Untuk membuktikannya, artikel ini berusaha mengungkap peran program Qoryah Thayyibah Yayasan Al-Muthi’in dalam pola gerakan filantropi dan strategi pemberdayaan di Kampung Maguwo Banguntapan Bantul. Penelitian kualitatif deskriptif dipilih untuk menggambarkan realita secara mendalam sehingga terlihat perbedaan antara keinginan dan kenyataan dalam pelaksanaan program Qoryah Thayyibah. Selain itu, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah participant observation dan in-depth interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat strategi yang dimiliki yayasan dalam penggalangan dana filantropi, yakni pengumpulan dana secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dilakukan melalui mekanisme “door to door” mencari donatur tetap. Sementara tidak langsung melalui program Qoryah Thayyibah dengan membangun usaha baru, yaitu mendirikan rumah produksi melalui pengumpulan barang yang layak jual dari masyarakat. Kedua strategi ini dapat dikatakan sebagai model karitas untuk mewujudkan keadilan sosial. Hasil pendayaangunaan dana filantropi tersebut digunakan untuk kegiatan pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, dan dakwah (keagamaan). Sisi lain, program pendayagunaan dana filantropi ini berdampak pada peningkatan kapasitas kepribadian, usaha dan kelembagaan.

References

  1. Aziz, Abdul, and dan Mariyah Ulfah. Kapita Selekta Ekonomi Islam Kontemporer. Bandung: Alfabeta, 2010.
  2. Bamualim, Chaider S, and dan Irfan Abubakar. Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan The Ford Foundation, 2005.
  3. Giddens, Anthony. Problematika Utama dalam Teori Sosial Aksi, Struktur dan Kontradiksi dalam Analisis Sosial. Edited by Daryanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
  4. ———. Teori Strkturasi: Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Manusia. Edited by Maufur & Daryanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
  5. Ife, Jim, and dan Frank Tesoriero. Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
  6. Latief, Hilman. “Filantropi dan Pendidikan Islam di Indonesia.” Jurnal Pendidikan Islam 28, no. 1 (February 22, 2016): 123. https://doi.org/10.15575/jpi.v28i1.540.
  7. ———. “Islamic Philanthropy and the Private Sector in Indonesia.” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies 3, no. 2 (December 1, 2013): 175. https://doi.org/10.18326/ijims.v3i2.175-201.
  8. Moleong, Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.
  9. Parisi, Salman Al. “Overview of Forecasting Zakat Collection in Indonesia Using Multiplicative Decompisition.” International Journal of Zakat 2, no. 1 (2017).
  10. Priyono, B. Herry. Anthony Giddens: Suatu Pengantar. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.
  11. Public Interest Research & Advocacy Public. “Berbagi Untuk Negeri, Pola dan Potensi Menyumbang Masyarakat, Hasil Survei di 11 Kota di Indonesia (2000, 2004 dan 2007).” Jakarta, 2012.
  12. Puspitasari, Dewi Cahyani, dan Naili Isnawati Sayida. “Praktik Filantropi Islam: Peluang Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Dhuafa.” In The 3rd International Islamic Philanthropy–Southeast Asia ZISWAF, 2016.
  13. Rahardjo, M. Dawam. “Filantropi Islam dan Keadilan Sosial: Mengurai Kebingungan Epistimologis.” In Berderma Untuk Semua: Wacana dan Praktek Filantropi Islam, edited by Thaha Idris. Jakarta: PBB UIN Syarif Hidayatullah, 2003.
  14. Sayida, Naili Isnawati. “LAZIS dan Filantropi Islam.” Universitas Gajah Mada, 2014.
  15. Sinta, Ari Dyah, dan M Falikul Isbah. “Filantropi dan Strategi Dakwah Terhadap Mualaf: Kolaborasi Mualaf Center Yogyakarta, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat di Yogyakarta.” KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi 13, no. 1 (August 27, 2019): 15–31. https://doi.org/10.24090/komunika.v13i1.2284.
  16. Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
  17. Wistoro, Daru L, dan Ahmad Arifi. Paradigma Qoryah Thoyyibah Sebagai Kampung Aman Yang Sejahtera Lahir Batin. Yogyakarta: Yayasan Al-Muthi’in, 2010.