Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer
Articles
Published: 16-11-2019

Bid’ah Hasanah dalam Pembangunan Ekonomi Kreatif di Industri Fashion Bandung

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
bid’ah hasanah moslem fashion creative industry.

Abstract

This article try to provide an understanding about bid’ah in the creativity industry. Bid’ah is permissible and can be a means of strengthening Islamic bases. This research use qualitative method and Weber's social actions approach. The analysis concludes that creativity in the Muslim fashion industry falls within the category of religiously acceptable heresy. This study also concludes that in the Muslim fashion industry, the motives intended are not only economic motives, but also religious motives. This religious motive is used by producers as a means of developing Muslim societies through the provision of attributes required in consumers' efforts to behave obediently. Producers act as agents with religious motives to provide establishment in Muslim hijab communities. In addition, the producers are increase creativity and innovation, it is the basis of the adaptation and sustainability of a community entity. If creativity can be an abstract idea, innovation embodies it in a product that can be used by many people. In the industrial world, creativity and innovation become lives to survive and develop. If the industry is engaged in products related to Islam, then it must adjust to the rules in Islam. Creativity in Islam is often equated with the term bid'ah. Bid'ah in Islamic literature is still in question. Some people consider it as something permissible on condition that it must be following the Islamic law.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan pemahaman tentang bid’ah dalam industri kreatif. Bid’ah boleh dilakukan dan dapat menjadi sarana untuk memperkuat basis-basis ke-Islaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan tindakan sosial Weber. Hasil analisis menyimpulkan kreativitas dalam industri fashion muslim masuk kategori bid’ah hasanah yang diperbolehkan oleh agama. Kajian ini juga menyimpulkan bahwa industri fashion muslim, motif yang dituju tidak hanya motif ekonomi. Namun motif agama juga menjadi tujuan. Motif agama ini digunakan oleh produsen sebagai sarana pengembangan masyarakat muslim melalui penyediaan atribut yang dibutuhkan dalam usaha konsumen untuk berperilaku taat. Produsen bertindak sebagai agen dengan motif religius untuk memberikan kemapanan dalam komunitas muslim berhijab. Pada kondisi ini produsen perlu meningkatkan kreativitas dan inovasi yang merupakan dasar adaptasi dan keberlanjutan suatu entitas masyarakat. Jika kreativitas merupakan ide yang abstrak, inovasi mewujudkannya dalam suatu produk yang bisa digunakan oleh banyak orang. Dalam dunia industri, kreativitas dan inovasi menjadi nyawa untuk bertahan dan berkembang. Jika industri bergerak pada produk-produk yang berkaitan dengan Islam maka ia harus menyesuaikan dengan aturan-aturan dalam Islam. Kreativitas dalam Islam sering disamakan dengan term bid’ah. Bid’ah dalam literatur Islam masih dipersoalkan. Beberapa kalangan menganggap sebagai sesuatu yang diperbolehkan dengan syarat harus sesuai dengan kaidah-kaidah hukum Islam.

References

  1. Adinugraha, Hendri Hermawan, and Mila Sartika. “HALAL LIFESTYLE DI INDONESIA.” An-Nisbah: Jurnal Ekonomi Syariah 5, no. 2 (April 15, 2019). https://doi.org/10.21274/an.2019.5.2.layout.
  2. Al-Baqiry, Ja’far Muhammad Ali. Al-Bid’ah. Teheran: Rabithah al-Tsaqafah wa al-’alaqat al-Islamiyah, 1996.
  3. al-Bayhaqi, Ahmad bin Husain. Manaqib Al-Syafi’i. Kairo: Dar al-Turath, n.d.
  4. Al-Hajjaj, Muslim bin. Shahih Muslim. Vol. 4. Beirut: Dar al-Turath al-’Arabi, n.d.
  5. Al-Qardawi, Yusuf. Halal Wa Haram Fi Al-Islam. Kairo: Maktabah Wahbah, 2013.
  6. Al-Syatibi, Ibrahim bin Musa. Al-I’tisam. Kairo: Maktabah al-Tauhid, 2008.
  7. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Indonesia Islamic Economic Masterplan 2019 - 2024. Indonesia Islamic Economic Masterplan 2019 - 2024. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan RI, 2019.
  8. Barliana, Shaom; Cahyani, Diah. Arsitektur, Urbanitas, Dan Pendidikan Budaya Berkota: Dari Surabaya Menuju. Sleman: Deepublish Publisher, 2014.
  9. Callinicos, Alex. Making History: Agency, Structure and Change in Social Theory. Leiden: Brill, 2004.
  10. Gilman, Charlotte Perkins. The Dress of Women: A Critical Introduction to The Symbolism and Sociology of Clothing. London: Greenwood Press, 2002.
  11. Gronow, Jukka. The Sociology of Teste. London: Routledge, 1997.
  12. Hariyadi. “Islamic Popular Culture and The New Identity of Indonesian Muslim Youths.” In 18th Biennial Conference of The Asian Studies Association of Australia. Adelaide, 2010.
  13. Ibid. No Title, n.d.
  14. Kompas, Editor. “Bandung, Kota Kreatif Di Asia Pasifik,” 2008. https://nasional.kompas.com/read/2008/05/27/20160710/bandung.kota.kreatif.di.asia.pasifik.
  15. Kompas, Jurnalis. Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008.
  16. Lipovetsky, Gilles. The Empire of Fashion: Dressing Modern Democracy. Princeton: Princeton University Press, 1994.
  17. Ramdhani, Neila. “Penyusunan Alat Pengukur Berbasis Theory of Planned Behavior.” Buletin Psikologi 19, no. 2 (2016). https://doi.org/10.22146/bpsi.11557.
  18. RI, Departemen Perdagangan. Studi Industri Kreatif Indonesia 2019. Jakarta: Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2009.
  19. Ritzer, George. Modern Sociological Theory. New York: McGraw-Hill Higher Education, 2008.
  20. Setkab, Humas. “Buka Muslim Fashion Festival, Presiden Jokowi Dorong Pengembangan Busana Muslim Khas Indonesia,” 2012. https://setkab.go.id/buka-muslim-fashion-festival-presiden-jokowi-dorong-pengembangan-busana-muslim-khas-indonesia/.
  21. Sibeon, Roger. Rethinking Social Theory. London: SAGE Publications, 2004.
  22. Simmel, Georg. “Fashion.” The American Journal of Sociology 62, no. 6 (1957).
  23. Suherman, Sherly A. Made in Bandung: Kreatif, Inovatif Dan Imajinatif. Bandung: Mizan, 2009.
  24. Turner, Bryan S. “The Sociology of The Body.” In The New Blackwell Companion to Social Theory, edited by Bryan S. Turner. West Sussex: Blackwell Publishing Ltd., 2009.
  25. Veblen, Thorstein. The Theory of The Leisure Class. Amerika: The Floating Press, 2009.
  26. Weber, Marx. The Theory of Social and Economic Organisation. Illinois: The Free Press, 1964.
  27. Wirawan, Ida Bagus. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana, 2012.