KONFLIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI DESA SUNGSANG KECAMATAN BANYUASIN II KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN

Abstract

Within the coastal communities, a conflict is one of a popular feature of society that we can easily found. This research discusses and dig  about the factors of conflict and how the fisherman resolve the conflict. This research employs a qualitative procedurs. Data collection methode used for this research are: participant observation, in-depth interviews, literature and documentation study. Data analysis was conducted by appliying some steps, such as: identification, classification, interpretation and conclusions. The result indicates that social conflict is in part caused by the catching fish  methods that are not mutually beneficial, overlapping the areas, destruction of a catch and other misbehavior attitudes, especially teenager. On conflict resolution in Sungsang village, it various parties also involved. If it is solved by deliberation consensus interpersonal, so it will continue with mediation by the village government. If it is not solved, it can be continues to the authorities department and even to the police.

Dalam masyarakat pesisir, konflik adalah salah satu gejala sosial yang sering kita jumpai di sekitaran daerah mayoritas nelayan. Penelitian ini membahas dan menggali tentang konflik apa saja yang terjadi dan bagaimana masyarakat nelayan itu menyelesaikan konflik yang ada. Kemudian siapa saja berperan dalam penyelesaian konflik itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi langsung ke lapangan, wawancara mendalam, kajian literatur dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif deskriptif, yaitu dengan melakukan langkah-langkah antara lain: identifikasi, klasifikasi, interpretasi dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik sosial yang terjadi antara lain konflik karena penggunaan alat tangkap yang merugikan, tumpang tindih lokasi penangkapan, pengrusakan alat tangkap dan kenakalan remaja. Penyelesaian konflik melibatkan berbagai pihak.   Jika secara musyawarah mufakat tidak bisa menyelesaikan masalah, maka akan dilanjutkan dengan mediasi oleh pihak pemerintah desa. Langkah selanjutnya yang ditempuh jika mediasi tidak berhasil maka berlanjut ke pihak berwenang seperti dinas terkait dan bahkan kepolisian.


 

Keywords

Social Conflict
Economic Conflict
Coastal Communities

References

  1. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
  2. Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  3. Charles A.T. 2001. Fishery Conflict and the Co-management Approach. Di dalam: Tony J. Pitcher, editor. Sustainable Fishery Systems. Canada: University of British Columbia.
  4. Fisher S, dkk. 2000. Mengelola Konflik : Keterampilan dan Strategi untuk Bertindak. Jakarta: The British Council. Diterjemahkan oleh Kartikasari, S.N. dkk
  5. Keppres Nomor 39 Tahun 1980 tentang Pelarangan Trawl.
  6. Kinseng, A. Rilus. 2014. Konflik Nelayan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  7. Kusnadi. 2003. Akar Kemiskinan Nelayan. Yogyakarta: LKiS.
  8. Satria, Arif, dkk. 2002. Menuju Desentralisasi Kelautan. Jakarta : PT. Pustaka Cidesindo.
  9. ____ . 2003. Konflik Nelayan Pasca Otonomi Daerah. Kagoshima : in press
  10. ____ . 2006. Konflik Nelayan dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. [Paper]. Disampaikan pada Forum Koordinasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan, DKP, Manado, 7-9 Desember 2006.
  11. Sulaiman. 2013. Model Penyelesaian Konflik Alat Tangkap Perikanan di Aceh Barat. Jurnal Ilmu Hukum No. 59, Th. XV (April, 2013), pp. 99-113.
  12. Suseno, Frans magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx “Sosialisme Utopis Keperselisihan Revisionism”, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
  13. Widiarto, Aan Eko. Setiawan Nurdayasakti dan Faizin Sulistio. 2013. Mekanisme Penyelesaian Konflik Nelayan. Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 3 No. 2.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.