Jurnal Moderasi https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Journal Name </span><strong><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies</span></strong></strong></span></p> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">ISSN </span></span><strong><a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20211203451264911" target="_blank" rel="noopener"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">2809-2376</span></span></a><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> (p) ; </span></span><a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20211203331285926" target="_blank" rel="noopener"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">2809-221X</span></span></a><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> (e)</span></span></strong></p> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Editor-in-Chief </span><strong><a href="https://saa.uin-suka.ac.id/id/page/detil_dosen/dosen/OXpJOEh1RjFKQng4WnFTcTRmTEpiMkhNSnNNV0V4djBlalhxRHltejJMMD0%3D">Ahmad Salehudin</a></strong></span><strong> </strong></p> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Publisher </span><strong><a href="http://ushuluddin.uin-suka.ac.id" target="_blank" rel="noopener"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta</span></a></strong></span><strong> </strong></p> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Frequency Twice a year <strong>(January-June and July-December</strong></span></span></p> <p> </p> <p><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Jurnal Moderasi: </span></span>The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Society</strong> is an academic journal dedicated to publishing high-quality academic articles by young researchers (undergraduate, master's, and doctoral students). This journal is published by Ushuluddin and the Faculty of Islamic Thought at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. The editorial board accepts submissions in the field of Ushuluddin sciences, including Islamic Theology and Philosophy, Quranic Studies and Exegesis, Hadith Studies, Sociology of Religion, Anthropology of Religion, Comparative Religion, and Islamic Politics and Muslim Society.</p> <p><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Jurnal Moderasi:</span></span> Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Society</strong>, an academic journal dedicated to publishing high-quality articles from young researchers (undergraduate, master's, and doctoral students). This journal is published by the Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. We invite submissions from the discipline of Ushuluddin, which includes Islamic Philosophy, Qur'anic Studies and Tafsir, Hadith Studies, Sociology of Religion, Anthropology of Religion, Religious Studies, and Islamic Politics and Muslim Society.</p> UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta en-US Jurnal Moderasi 2809-2376 Dinamika Penafsiran Al-Qur’an di Indonesia https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi/article/view/6609 <p>The interpretation of the Qur'an has a long and very important history, which is closely related to the social, political, and cultural contexts that surround it. During the colonial period in Indonesia, especially under Dutch rule, the interpretation of the Qur'an faced various challenges influenced by the repressive political environment and restrictions on religious freedom. The Qur'an not only functions as a guide to worship, but also as a very important tool in the resistance against colonial oppression and the preservation of Islamic identity. This article describes the interpretation of the Qur'an in Indonesia which is limited to the pre-independence period of Indonesia from beginning to end. This article uses a historical approach, namely describing the development and dynamics of Indonesian interpretation by looking at it from a historical perspective from the early to the late pre-independence period. Interpretation in Indonesia experienced quite dynamic development in the pre-independence era, marked by interpretations that emerged from oral teaching to the publication of various interpretation books. This is due to the influence of pressure from social and political conditions that changed in each period and region. This article also highlights the role of scholars and intellectuals who tried to understand and convey the teachings of the Qur'an that were relevant to the socio-political realities of their time, often using the Qur'an as a tool for nationalist struggle. In this context, the interpretation of the Qur'an at that time was not only a theological endeavor but also a political and ideological instrument in the struggle for independence and justice.</p> <p>Penafsiran Al-Qur’an memiliki sejarah panjang yang sangat penting, yang erat kaitannya dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya. Pada masa penjajahan di Indonesia, khususnya di bawah pemerintahan Belanda, penafsiran Al-Qur’an menghadapi berbagai tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan politik yang represif dan pembatasan kebebasan beragama. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah, tetapi juga sebagai alat yang sangat penting dalam perlawanan terhadap penindasan kolonial dan pelestarian identitas Islam. Tulisan ini menguraikan penafsiran Al-Qur’an di Indonesia yang dibatasi pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dari awal hingga akhir. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan menjadikan penafsiran dari masa Pra-Kemerdekaan sebagai sumber utamanya, didukung dengan jurnal-jurnal dan buku sebagai sumber sekundernya. Pendekatan sejarah digunakan pada penelitian ini yakni dengan menguraikan perkembangan serta dinamika tafsir Indonesia dengan melihat dari sudut pandang sejarah pada masa pra-kemerdekaan awal hingga akhir. Penafsiran di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup dinamis pada era pra-kemerdekaan, ditandai dengan penafsiran yang muncul mulai dari pengajaran secara lisan sampai pada penerbitan berbagai kitab tafsir. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari tekanan keadaan sosial, politik yang berubah-ubah di setiap masa dan wilayahnya. Artikel ini juga menyoroti peran ulama dan intelektual yang berusaha memahami dan menyampaikan ajaran Al-Qur’an yang relevan dengan realitas sosial-politik pada zamannya, sering kali menggunakan Al-Qur’an sebagai alat perjuangan nasionalisme. Dalam konteks ini, penafsiran Al-Qur’an pada masa tersebut tidak hanya menjadi usaha teologis, tetapi juga instrumen politik dan ideologis dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan</p> Adinda Fatimah Rahmawati Copyright (c) 2025 Adinda Fatimah Rahmawati http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 5 2 18 46 10.14421/jm.2025.52.02 The Two Faces of Deepfake https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi/article/view/6946 <p>The rapid development of digital technology has significantly reshaped the way information is produced, disseminated, and consumed. Among these advancements, deepfake an AI-generated technique that produces hyper-realistic yet fabricated digital content, emerges as one of the most influential and controversial innovations in contemporary media. Its presence raises not only socio-ethical concerns but also urgent theological and moral questions within Islamic discourse. This study seeks to explore the Qur’anic perspective on deepfake by examining how the Qur'an conceptually frames human creativity, representation, deception, and accountability. Employing a qualitative, descriptive-analytical approach, this library research adopts Abdul Mustaqim’s thematic-contextual interpretation method due to its strength in connecting classical Qur’anic concepts with modern realities in a flexible yet academically grounded manner. The findings reveal that the Qur'an acknowledges two contrasting dimensions of deepfake: its constructive/beneficial dimension, including its potential as a means of knowledge (Q.S. al-‘Alaq/96:4; Q.S. al-Qalam/68:1) and its capacity to support innovation and human welfare (Q.S. Yūsuf/12:70; al-Baqarah/2:164; al-‘Ankabūt/29:43; Āl ‘Imrān/3:190-191). Conversely, the Qur'an also warns against its destructive/harmful dimension, such as major deceit and false allegations (Q.S. Yūsuf/12:18; al-Nūr/24:11-12; al-Ḥajj/22:30), as well as manipulation and unethical distortion (Q.S. al-Muṭaffifīn/83:1-3; al-Baqarah/2:9).</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah secara signifikan mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. Di antara kemajuan tersebut, deepfake adalah sebuah teknik berbasis kecerdasan buatan yang menghasilkan konten digital sangat realistis namun bersifat rekayasa yang muncul sebagai salah satu inovasi paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam media kontemporer. Kehadirannya tidak hanya memunculkan persoalan sosial-etis, tetapi juga pertanyaan teologis dan moral yang mendesak dalam wacana keislaman. Penelitian ini berupaya menelusuri perspektif al-Qur’an mengenai deepfake dengan mengkaji bagaimana al-Qur’an memandang kreativitas manusia, representasi, tipu daya, dan akuntabilitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian kepustakaan ini menerapkan metode tafsir tematik-kontekstual Abdul Mustaqim karena memiliki metode kombinasi kontekstual dalam menghubungkan konsep-konsep klasik al-Qur’an dengan realitas modern secara fleksibel namun tetap akademis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an mengakui dua dimensi yang saling berlawanan dari deepfake: dimensi konstruktif/beneficial yang mencakup potensinya sebagai sarana pengetahuan (Q.S. al-‘Alaq/96:4; Q.S. al-Qalam/68:1) dan kemampuannya mendukung inovasi serta kesejahteraan manusia (Q.S. Yūsuf/12:70; al-Baqarah/2:164; al-‘Ankabūt/29:43; Āl ‘Imrān/3:190-191). Sebaliknya, al-Qur’an juga memperingatkan dimensi destruktif/harmful, seperti penipuan besar dan tuduhan palsu (Q.S. Yūsuf/12:18; al-Nūr/24:11-12; al-Ḥajj/22:30), serta manipulasi dan distorsi yang tidak etis (Q.S. al-Muṭaffifīn/83:1-3; al-Baqarah/2:9).</p> Zira Shafira Copyright (c) 2025 Zira Shafira http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 5 2 66 80 10.14421/jm.2025.52.04 Between Central and Peripheral https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi/article/view/7005 <p>This article discusses two feminist thinkers, amina wadud and Faqihuddin Abdul Kodir, who articulate similar ideas of Islamic feminism through different approaches. wadud represents thinkers who live in the ‘central’ environment of feminist discourse, while Faqih indicates how ‘peripheral’ currents creatively adopt and adapt such discourse. This article argues that differences in intellectual formation and socio-cultural background strongly shape how each engages the Qurʾān, which in turn affects their respective attitudes toward classical traditions, particularly tafsir and uṣūl al-fiqh. This article discusses how their hermeneutical frameworks interpret Qur’anic gender verses, where their similarities and differences lie in their approaches to tafsir, both in terms of methodology and exegetical outcomes, and especially how they resist, receive, and reconfigure the classical tradition. Ultimately, this study shows that wadud, situated within the ‘central’ domain of feminist theory and influenced by secular-liberal paradigms, tends toward a deconstructive posture that challenges classical traditions. In contrast, Faqih, who was educated in traditional academia and lives in a ‘peripheral’ context, while inspired and influenced by wadud, adapts feminist ideas in ways that are more appreciative of the classical intellectual heritage.<br /><br /><strong>Abstrak</strong></p> <p>Artikel ini membahas dua pemikir feminis, Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir, yang mengartikulasikan gagasan feminisme Islam yang serupa melalui pendekatan yang berbeda. Wadud merepresentasikan pemikir yang beroperasi dalam lingkungan ‘sentral’ diskursus feminis, sementara Faqih menunjukkan bagaimana arus ‘perifer’ secara kreatif mengadopsi dan mengadaptasi diskursus tersebut. Artikel ini berargumen bahwa perbedaan latar belakang intelektual dan konteks sosio-kultural secara signifikan membentuk cara masing-masing tokoh berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang pada gilirannya memengaruhi sikap mereka terhadap tradisi klasik, khususnya tafsir dan uṣūl al-fiqh. Pembahasan difokuskan pada bagaimana kerangka hermeneutik keduanya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang gender, dengan menyoroti persamaan dan perbedaan dalam pendekatan tafsir, baik dari segi metodologi maupun hasil penafsiran, serta cara mereka merespons, menerima, dan merekonfigurasi tradisi klasik. Pada akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa Wadud, yang berada dalam ranah sentral teori feminis dan dipengaruhi oleh paradigma sekuler-liberal, cenderung mengambil sikap dekonstruktif yang menantang tradisi klasik. Sebaliknya, Faqih, yang ditempa dalam tradisi akademik keislaman dan hidup dalam konteks perifer, meskipun terinspirasi dan dipengaruhi oleh Wadud, mengadaptasi gagasan feminis dengan cara yang lebih apresiatif terhadap warisan intelektual klasik.</p> Muhammad Syāmil Basāyif Copyright (c) 2025 Muhammad Syāmil Basāyif http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 5 2 47 65 10.14421/jm.2025.52.03 Analisis Konvergensi Simbolik pada Akun Instagram @Sehand_Azhar https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi/article/view/7015 <p>In the digital age, the traditional boundaries of pesantren life are becoming increasingly blurred as self-representation activities on social media increase. This phenomenon is clearly seen on the Instagram account @sehand_azhar, which actively visualizes the dynamics of students at Pondok Modern Darussalam Gontor. This study aims to analyze how this account constructs the social reality of students through a qualitative approach. Symbolic Convergence Theory is used as an analytical tool to dissect visual and textual narratives, as well as interaction patterns in the comments section. The results show that the use of symbolic cues characteristic of Islamic boarding schools triggers a series of fantasy themes centered on nostalgia, discipline, and boarding school brotherhood. The accumulation of these themes merges into a rhetorical vision that presents santri as modern, adaptive figures who remain steadfast in upholding traditional values. These findings have implications for strengthening the collective identity of alumni in the digital space, while also changing public perceptions of the exclusivity of the modern pesantren world.</p> <p> </p> <p>Di era digital, batasan tradisional kehidupan pesantren semakin kabur seiring meningkatnya aktivitas representasi diri di media sosial. Fenomena ini terlihat jelas pada akun Instagram @sehand_azhar yang aktif memvisualisasikan dinamika santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana akun tersebut mengonstruksi realitas sosial santri melalui pendekatan kualitatif. Teori Konvergensi Simbolis (Symbolic Convergence Theory) digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah narasi visual, tekstual, dan pola interaksi di kolom komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan isyarat simbolis (symbolic cues) khas pesantren memicu serangkaian tema fantasi yang berpusat pada nostalgia, kedisiplinan, dan persaudaraan pondok. Akumulasi dari tema-tema ini melebur menjadi sebuah visi retoris (rhetorical vision) yang menampilkan citra santri sebagai sosok yang modern, adaptif, namun tetap teguh memegang nilai tradisi. Temuan ini berimplikasi pada penguatan identitas kolektif alumni di ruang digital, sekaligus mengubah persepsi publik terhadap eksklusivitas dunia pesantren modern.</p> Shofyan Arief Annisa Dwi Lestari Copyright (c) 2025 Shofyan Arief, Annisa Dwi Lestari http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 5 2 1 17 10.14421/jm.2025.52.01 Framing Al-Qur’an dalam Tren Marriage Is Scary di Media Online https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/moderasi/article/view/7026 <p><em>Marriage in a social and religious context is often considered sacred and capable of bringing happiness to couples. However, in today's digital age, a new narrative known as Marriage Is Scary has emerged on social media, voicing fears about marriage. The method used in this study is a descriptive qualitative method with a library research approach. The primary data for this study is limited to online media related to the Marriage Is Scary trend, namely Media Santri Nu and Tempo.co. Meanwhile, the secondary data for this study is sourced from related literature. In analyzing the data, this study uses Robert M. Entman's framing analysis approach. The results of this study show that the Marriage Is Scary trend tends to focus on the negative aspects of marriage without offering balanced solutions. Several key factors that trigger fear of marriage in this trend include trauma from bad experiences, economic instability, and changes in social values that prioritize individualism. However, in Islam, marriage is not merely a social relationship, but also a form of worship and sunnah of the Prophet, as emphasized in QS. Ar-Rūm: 21.</em></p> <p><em>Pernikahan dalam konteks sosial dan agama sering dianggap sebagai sesuatu yang suci yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan. Namun, di era digital saat ini, muncul narasi baru yang dikenal dengan istilah Marriage Is Scary di media sosial yang menyuarakan ketakutan terhadap pernikahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer dari penelitian ini terbatas pada media online yang berkaitan dengan tren Marriage Is Scary, yaitu Media Santri Nu dan Tempo.co. Sedangkan data sekunder dari penelitian ini bersumber dari literatur-literatur yang terkait. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis framing Robert M. Entman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren Marriage is Scary cenderung memfokuskan pada aspek negatif pernikahan tanpa menawarkan solusi yang seimbang. Beberapa faktor utama yang memicu ketakutan terhadap pernikahan dalam tren ini meliputi trauma dari pengalaman buruk, ketidakstabilan ekonomi, serta perubahan nilai sosial yang lebih mengedepankan individualisme. Namun, dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan juga sebuah ibadah dan sunnah Rasulullah, seperti yang ditegaskan dalam QS. Ar-Rūm: 21</em></p> afifah bintihafidz Copyright (c) 2026 afifah bintihafidz http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-12-27 2025-12-27 5 2 81 104 10.14421/jm.2025.52.05