KONTROL SOSIAL DALAM PEMBINAAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK MUSLIM DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 DUKUHTURI KABUPATEN TEGAL

Abstract

Religious character of students in state vocational high school 1 Dukuhturi Tegal was build of Sholat Dhuha habituation. As a social control, the teachers give a pin “not allow me” to lazzy students in Sholat Dhuha habituation and also give reward mukenah for diligent students. This qualitative research using case study aimed to find out the effectiveness of social control religious character’s student in state vocational high school 1 Dukuhturi Tegal. Data validation was carried out using data source triangulation. Technique of analyzing data used integrated data resulting from the observation of Sholat Dhuha habituation, interview, and documentation from many sources to support information. The theory employed was Talcot Parsons’s Theory with AGIL Concept. The results of research showed that the students doing Sholat Dhuha is not only they afraid of the punishment but they also have a spiritual needs. Religious character habituation doing by obedient attitude in Islam, dicipline, tolerant, and honestly in aqidah subject. This habituation need supports all of school element so that the students have a good religious character.

Karakter religius peserta didik SMK N 1 Dukuhturi dibina dengan membiasakan Sholat Dhuha. Sebagai kontrol sosial, Guru menerapkan hukuman berupa penempelan pin bertuliskan “jangan tiru aku” bagi yang tidak rajin melaksanakan dan pemberian penghargaan berupa mukenah bagi yang rajin melaksanakan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontrol sosial dalam pembinaan karakter religius peserta didik muslim SMK N 1 Dukuhturi. Validitas data diperoleh dengan cara triangulasi sumber data. Teknik analisis data dilakukan dengan mengintegrasikan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap kepala sekolah, guru, dan peserta didik kemudian dianalisis menggunakan teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik melaksanakan Sholat Dhuha tidak hanya karena ada hukuman dan penghargaan tapi muncul rasa kebutuhan spiritual. Pembinaan karakter religius yang dilakukan adalah sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama Islam, disiplin, toleran, dan jujur melalui pembelajaran akidah. Pembiasaan Sholat Dhuha baru dilaksanakan dengan maksimal oleh beberapa wali kelas; Butuh dukungan dari seluruh warga sekolah agar bisa menjadi sebuah pembinaan karakter religius yang kuat. Dampaknya masih banyak peserta didik di kelas lain yang belum memiliki rasa kebutuhan spiritual.

Keywords: Social Control, Religius Character, Muslims Students, State Vocational High School      

References

  1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. 8 Juli 2003. Jakarta: Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390.
  2. Kemdiknas. 2010. Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-20125. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
  3. Pusat Kurikulum. 2009. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. Hlm 9-10. Jakarta: Pusat Kurikulum.
  4. Santrock, J.W. 2007. Psikologi Pendidikan (edisi kedua) (Penerj. Tri Wibowo B.S). Jakarta: Kencana, hal 328.
  5. Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi 5. Jakarta: Erlangga, hal 222.
  6. Ritzer, George dan Goodman, Douglas. 2009. Teori Sosiologi:Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosiologi Post Modern. Yogyakarta: Kreasi Wacana, hal 118.
  7. Syawaludin, M. 2016. Kontribusi Teori Fungsionalisme Struktural Parsons: Pengelolaan Sistem Sosial Marga di Sumatra Selatan. Jurnal Sosiologi Reflektif, 10:175-198.
  8. Yin, K.R.2013. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  9. Setiadi, Elly. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Refbacks

  • There are currently no refbacks.