Negosiasi Adat dan Agama dalam Tradisi Tuor Perkawinan Mandailing: Perspektif Generasi Muda Muslim Mandailing di Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.14421/inright.v15i2.5162Keywords:
Generasi Muda, Tuor, MandailingAbstract
This study aims to analyze the perceptions, meanings, and sociological factors influencing young Mandailing Muslim migrants in Yogyakarta regarding the existence of the tuor tradition (customary dowry) in modern traditional marriages. This qualitative field research integrates sociological and anthropological approaches, analyzed through the lens of Max Weber's Social Action Theory. Primary data were gathered through in-depth interviews with eight young Mandailing migrants in Yogyakarta, while secondary data were drawn from literature studies and reputable scientific publications. The findings demonstrate that the tuor tradition continues to exist and is perceived not merely as a material transaction, but as a symbol of respect for women and their families, a manifestation of the groom's seriousness and readiness, and a means to strengthen inter-clan kinship ties (dalihan na tolu). The majority of informants distinguish tuor as a customary symbolic norm from mahr in Islamic law, although a minority views them as having overlapping functions. These perceptions are dynamically influenced by family socialization background, higher education, economic conditions in migration, as well as cross-cultural interactions and digital media. Within Weber's theoretical framework, this phenomenon reflects an interplay among traditional, instrumentally rational, and value-rational actions. Shifts in perception among young migrants do not indicate the loss of tradition, but rather a process of social reinterpretation and cultural resilience, ensuring that the noble philosophical values of tuor remain relevant and harmonized with Islamic principles amidst modern societal dynamics.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi, pemaknaan, serta faktor-faktor sosiologis yang memengaruhi pandangan generasi muda Muslim Mandailing perantau di Yogyakarta terhadap eksistensi tradisi tuor (mahar adat) dalam perkawinan adat era modern. Penelitian kualitatif dengan metode studi lapangan ini mengintegrasikan pendekatan sosiologis dan antropologis, yang dibedah melalui pisau analisis Teori Tindakan Sosial Max Weber. Data primer dihimpun melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan generasi muda perantau Mandailing di Yogyakarta, sedangkan data sekunder bersumber dari studi kepustakaan dan literatur ilmiah bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi tuor tetap eksis dan dimaknai bukan sekadar transaksi materi, melainkan sebagai simbol penghormatan terhadap perempuan dan keluarganya, wujud kesungguhan dan kesiapan calon suami, serta sarana untuk mempererat tali kekerabatan antarklan (dalihan na tolu). Mayoritas informan membedakan tuor sebagai norma adat-simbolik dengan mahar dalam hukum Islam, kendati sebagian kecil memandangnya memiliki fungsi yang beririsan. Pemaknaan tersebut dipengaruhi secara dinamis oleh latar belakang sosialisasi keluarga, jenjang pendidikan tinggi, tantangan kondisi ekonomi di perantauan, serta maraknya interaksi lintas budaya dan media digital. Dalam kerangka teori Max Weber, fenomena ini merefleksikan keterkaitan antara tindakan tradisional, tindakan rasional-instrumental, dan tindakan berorientasi nilai. Pergeseran pemaknaan di kalangan generasi muda perantau tidak mengindikasikan hilangnya tradisi, melainkan proses reinterpretasi dan adaptasi sosial (cultural resilience) agar nilai-nilai filosofis luhur tuor tetap relevan dan harmonis dengan ajaran Islam di tengah dinamika masyarakat modern.
References
Adikusuma, Firman. Hukum Perkawinan Adat. Citra Aditya Bakti, 2007.
Aida, Nur, dan Widya Sari. “Keunikan Pernikahan dalam Perspektif Hukum Adat Mandailing.” Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya 3, no. 1 (2025): 87–97.
Al Zuhayli, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Vol. 9. Damaskus: Dar al-Fikr, 2008.
Alwi, Muhammad, Nur Alfiyyah, dan Rahmi Wahyuni. “Penetapan Tuor Adat di Mandailing Natal dalam Perspektif Hukum Islam.” Reflection: Islamic Education Journal 2, no. 1 (2025): 252. https://doi.org/https://doi.org/10.61132/reflection.v2i1.457.
Aminudin, dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Rajawali Pers, 2020.
Asrul, Hamid, Andi Muday, dan Raja Ritonga. “Pergeseran Makna Mahar Dalam Tradisi Perkawinan Adat Mandailing: Perspektif Hukum Islam Dan Nilai SosiaL.” Familia: Jurnal Hukum Keluarga 6, no. 1 (2025): 24–27. https://doi.org/https://doi.org/10.24239/familia.v6i1.298.
Azhar, Muhammad. “Persepsi Mahasiswa Perantau terhadap Komersialisasi Uang Japuik dan Mahar Adat dalam Tradisi Perkawinan.” Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) 5, no. 1 (2025): 88–104.
Dewi, Erna. “Penetapan TUOR Adat Mandailing Perspektif Hukum Islam.” Qiyas: Jurnal Hukum Islam Dan Peradilan 9, no. 1 (2024): 63-67.
Ghofur, Abdul, Khotimah, dan Mulyadi. “ADAT PERNIKAHAN BATAK TOBA DAN MANDAILING: Perbedaan, Persamaan, dan Nilai-Nilai Sosial.” Nusantara; Journal for Southeast Asian Islamic Studies 21, no. 1 (2025): 53.
Hanaya, Husnul, dan Mulyadi. “Prosesi Pra Pernikahan Dalam Adat Mandailing Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Kabupaten Padang Lawas).” Jurnal Kajian Hukum Keluarga Islam (Al Akhwal Al Syakhsiyah), 4, no. 1 (2022): 21.
Hayumi, Pina. “Transformasi Tradisi Mangalehen Tuor dalam Upacara Perkawinan Mandailing Pasca Migrasi ke Kota Medan.” Polyscopia 1, no. 3 (2024): 171. https://doi.org/https://doi.org/10.57251/polyscopia.v1i3.1377.
Hazairin. Hukum Kekeluargaan Nasional. Tinta Emas. Jakarta, 1982.
Lubis, Sahar. “Upaya Pelestarian Adat Istiadat Mandailing dalam Era Modernisasi.” Jurnal Sosial Budaya 20, no. 2 (2023): 48-52.
Pasaribu, Muhammad Wildan. “Mandailing Customary Dowry Determination Practices in Padang Lawas District in Perspective of ’urf Theory,.” Mir’ah: Family Law and Legal Culture 1, no. 1 (2024): 57-76.
Pratiwi, Yunita. “Makna Tuor dalam Perkawinan Adat Mandailing (Analisis terhadap Pandangan Generasi Muda Muslim Mandailing di Yogyakarta),”.” UIN Sunan Kalijaga, 2025.
Rahman, Abdul. “Fungsi Sosial dan Makna Simbolis Mahar dalam Hukum Keluarga Islam.” Jurnal Hukum Keluarga Islam 5, no. 1 (2021): 45-48.
Rangkuti, Faisal. “Tradisi Tuor dalam Sistem Perkawinan Adat Mandailing: Dialektika Hukum Adat dan Hukum Islam.” Jurnal Hukum Islam dan Hukum Keluarga 7, no. 1 (t.t.): 34-50.
Rangkuti, Husein. “Tradisi Tuor Dalam Perkawinan Studi Di Desa Ampung Julu Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal,.” Jurnal Hukum Keluarga Islam 3, no. 2 (2020): 112-115.
Rasyid, Syahrir. “Tuor dalam Perkawinan Adat Mandailing di Desa Pastap Julu Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal Perspektif Maqashid Syari’ah.” Thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, 2024.
Ridwan, Muhammad. “Tradisi Tuor pada Perkawinan Masyarakat Adat Mandailing di Desa Purba Baru Kecamatan Lembah Sorik Marapi Kabupaten Mandailing Natal.” urnal Hukum Keluarga Islam 3, no. 2 (2022): 45–55.
Risa, Yulia, dan Emizal Amri. “Fungsi Tuor Bagi Orang Mandailing.” Culture & Society: Journal of Anthropological Research 3, no. 2 (2021): 95-98.
Saputra, Andi. “Hibriditas Hukum dan Adaptasi Syariat dalam Tradisi Perkawinan Adat Nusantara.” AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial 18, no. 2 (2023): 401-425.
Siregar, Hayumi. “Transformasi Tradisi Mangalehen Tuor Dalam Upacara Perkawinan Mandailing Pasca Migrasi.” Polyscopia 1, no. 3 (2024): 169-171.
Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (2011).
Sugianto, Haris. “Komposisi Mahar Syar’i dan Tuor dalam Perkawinan Adat Mandailing: Perspektif Hukum Islam.” Jurnal Al-Maqasid: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan 9, no. 1 (2024): 60.
Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif: Untuk Penelitian yang Bersifat Eksploratif, Enterpretif, Interaktif dan Konstruktif. Alfabeta, 2022.
Sykri, Nasution. “Pergeseran Nilai-Nilai Adat Perkawinan Mandailing pada Generasi Muda Perantau.” Jurnal Antropologi Sumatera 9, no. 1 (2025): 35-40.
Ubaidullah. “Dampak Media Sosial Terhadap Perubahan Nilai-Nilai Budaya Di Kalangan Generasi Muda.” DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra 5, no. 2 (2025): 1338–40.
Wawancara dengan Afriansyah Tanjung selaku informan (2025).
Wawancara dengan Bahri Rambe, selaku informan. (Yogyakarta), tanggal Agustus 2025.
Wawancara dengan Freddy Hermansyah Lubis selaku informan (2025).
Wawancara dengan Nursaima Putri Siregar (2025).
Zahroh, Ayunda. “TUOR dan Harga Diri Perspektif Psikologi dan Hukum Islam.” El-Ahli: Jurnal Hukum Keluarga Islam 1, no. 1 (2021): 120-125.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ahmad Syaifudin Anwar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Tanggungjawab Penerbit (Publisher):
- Jurnal IN RIGHT sebagai penerbit jurnal ilmiah bertanggungjawab menerbitkan artikel yang setelah melalui proses editing, peer-review, layout sesuai dengan aturan penerbitan Jurnal Ilmiah.
- Jurnal IN RIGHT bertanggungjawab menjamin kebebasan akademik bagi para editor dan reviewer dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
- Jurnal IN RIGHT bertanggungjawab menjaga privasi dan melindungi kekayaan intelektual dan hak cipta, dan kebebasan editorial.






