Tindakan Korupsi sebagai Tindakan Imoral dalam Perspektif Fungsional (Kajian Film Korupsi dan Kita: Rumah Perkara)

Muryanti Muryanti

Abstract


Abstrak. Perilaku korupsi dalam perspektif fungsionalisme structural berfungsi sebagai pelumas birokrasi untuk mempercepat sistem birokrasi menjalankan tugasnya. Korupsi merupakan salah satu fungsi melekat dalam fungsi politik dan fungsi ekonomi yang berjalan beriringan untuk memperoleh keuntungan maksimal. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi positif dari korupsi pada sistem politik di film: Korupsi dan Kita: Rumah Perkara. Film ini merupakan salah satu cermin situasi perpolitikan di Indonesia yang sangat rentan dengan perilaku dan tindak pidana korupsi. Metode penelitian adalah kualitatif dengan menganalisis data sekunder film dan menganalisisnya dengan perspektif structural fungsional. Hasil penelitian menunjukan bahwa fungsi positif dari korupsi benar-benar dijalankan oleh pebisnis untuk mendapatkan keuntungan dari bisnisnya tanpa mempertimbangkan moral dan mengabaikan moral itu sendiri. Perilaku bisnis bekerjasama dengan pejabat dengan melakukan suap untuk menggoalkan tujuannya. Kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan maksimal karena kepentingan bisnis dan politik bisa berjalan beriringan. Sisi yang lain, masyarakat banyak menderita karena perilaku korupsi, diantaranya: kehilangan lahan, pekerjaan dan tanah kelahiran.    

Kata Kunci: Tindakan Korupsi, Imoral, Amoral dan Struktural Fungsional

 

 

Abstract. Corrupt behaviour, in the perspective of structural functionalism, function as the lubricant of bureaucracy to quicken the bureaucracy system in doing their job. Corruption does have political function as well as economical client which runs simultaneously to gain maximum advantage. This writing is aimed to discover the positive function of corruptionin the political system in the movie Korupsidan Kita: RumahPerkara. This movie is one example of political situation in Indonesia which is very vulnerable to corruption. The research method is qualitative by analysing secondary data, which is movie, with structural and functional perspective. The result of the research shows that the positive function of corruption is really done by the businessman to gain advantage towards their business but with ignoring the moral value. In reaching the goal, businessman cooperate with government officers. The two parties get the advantages because business and political importance can actually run together. In the other side, society suffer from this corruption activity for example: losing land, occupation and birthplace.

Keywords: corruption, immoral, structural and functional


Keywords


Tindakan Korupsi, Imoral, Amoral dan Struktural Fungsional

Full Text:

PDF

References


Alatas, S.H.(1986), Sosiologi Korupsi Sebuah Penjelajahan dengan Data Kontemporer (Penerjemah Al Gozie Usman), Jakarta: LP3ES.

Alatas, Syed Hussain, (1987), Korupsi : Sifat, Sebab dan Fungsi, Jakarta : LP3ES

Isra, Saldi, (2007), Menangani Korupsi: Model Percontohan dari Sumatera Barat-Indonesia disampaikan dalam Siri Syarahan Umum International Institute of Public Policy and Management (INPUMA) X, Fakulti ekonomi dan Petadbiran Universiti Malaya, 28 Maret, Kuala Lumpur Malaysia)

Perdana, Ari A. (2009), Biaya Ekonomi dari Korupsi: Perspektif Teori dan Empiris, Jakarta: Gramedia

Ritzer, Goerge, (2004), Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Kencana.

Ritzer, George, (2012), The Wiley-Blackwell Companion to Sociology. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rieffel, Lex dan Karaniya Dharmasaputra,(2009), Dibalik Korupsi Yayasan Pemerintah, Jakarta: Gramedia

Rukmana, Aan, (2009), Korupsi di Indonesia dalam Lintasan Sejarah, Jakarta : Gramedia

Soekanto, Soerjono, (2001), Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press.

Wijayanto dan Ridwan Zachrie,(2009), Korupsi mengorupsi Indonesia: Sebab, Akibat dan Prospek Pemberantasan, Jakarta: Gramedia

Film Korupsi vs Kita, RUMAH PERKARA




DOI: https://doi.org/10.14421/pjk.v11i2.1317

Refbacks

  • There are currently no refbacks.