PROBLEM-PROBLEM MINORITAS TRANSGENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BERAGAMA

RR Kurnia Widiastuti
* UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DOI: https://doi.org/10.14421/jsa.2016.102-06

Abstract


Transgender individual is one of minority in our society. Transgender people has problem with their body and feeling. Their physical appearances do not match with their psychological aspect. Therefore they are assumed by majority society as“abnormal” people. As a result they tend to be discriminated and marginalized from the society. As a human being, transgender individual has the same right as other individuals of the society. Therefore as religious people, transgender individuals have freedom to express their belief. However, they find several problems in their living existences in social religious context.

Kata Kunci: transgender, minoritas, hak beragama, abnormal, dan diskriminasi


Full Text:

PDF

References


Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari, juz VI, hal 645.

Arianto dan Triawan, Rido. 2008. Jadi, Kau tak Merasa Bersalah!?: Studi Kasus Diskriminasi dan Kekerasan terhadap LGBTI. Jakarta: Arus Pelangi Bekerjasama dengan Yayasan Tifa.

Boellstorff, Tom. (2004). Playing Back the Nation: Waria, Indonesian Transvetites.Cultural Anthropology.Vol. 19.Issue 2. University of California Press, Journal Division.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 4, Pasal 18 dan Pasal 19.

Faidah dan Abdullah. Religiusitas dan Konsep Diri Kaum Waria. JSGI, Vol. 04, No. 01, Agustus 2013.

Ghazali, Abdul Muiz. Agama dan Sikap Terhadap Waria.Terbit di suarakita.org pada tanggal 12 Desember 2012.

Guhmanaf. Up Close and Personal with Shuniyya Ruhama .Terbit di suarakita.org, pada tanggal 2 Juni 2012.

Habiiballah, Shuniyya Ruhama. (2005). Jangan lepas jilbabku:catatan harian seorang waria. Yogyakarta: Galang Press.

Hanggoro, Handaru Tri. Cara Bang Ali Hadapi Waria. Terbit di historia.id pada 26 Februari 2016.

Harian Republika, MIUMI: LGBT dan Pernikahan Sejenis Mengancam Kemanusiaan.Terbit pada Selasa 2 Juli 2013.

Harian Republika. MUI Angkat Bicara Soal LGBT di Indonesia. Terbit pada Selasa, tanggal 2 Juli 2013.

Harian Republika. MUI: Lembaga Konseling Jangan Normalkan Perilaku LGBT. Terbit pada Senin tanggal 25 Januari 2016.

Hartsock, Nancy. (1987). Rethinking Modernism: Minority vs Majority Theories. University of Minnesota Press: Cultural Critique.

Jennifer Jackson Preece. (2005) Minority Rights: Between Diversity and Community, UK and USA: Polity Press.

Irwan Abdullah dkk. 2002. Islam dan Konstruksi Seksualitas. Yogyakarta: Kerjasama PSW IAIN Yogyakarta, The Ford Foundation dan Pustaka Pelajar.

Komisi Fatwa MUI. Masalah Waria. Sidang MUI pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1418 H/ 11 Oktober 1997.

Pasal 18 (a) Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi Manusia.

Pasal 18, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Pasal 28 E (1) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Permensos RI No. 8 Tahun 2012.

Piagam Hak Asasi Manusia Pasal 13.

Siadari, Eben Ezer. Foto Waria Salat Bersama di Pesantren Yogya Menangi Penghargaan Dunia. Terbit di Sinar Harapan pada tanggal 21 April 2015.

UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia

Zakaria, Anang. Waria Yogyakarta ingin Jadi Gender Ketiga. Terbit di Tempo, 24 November 2013.

Zufar, Muhammad. Kisah Shinta, waria bertitel sarjana yang memiliki pondok pesantren. Terbit di Brilio.net pada tanggal 11 Desember 2015.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Jurnal Sosiologi Agama



Jurnal Sosiologi Agama

ISSN: 1978-4457 

E-ISSN: 2548-477X

Creative Commons License

Jurnal Sosiologi Agama is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed By:

  

Office

1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156

E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id