Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Tradisi Dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang: Bentuk, Makna dan Proses Historis

Authors

  • Finta amalia UIN Walisongo Semarang
  • Muh Maula Ulil Absor UIN Walisongo Semarang
  • Muhammad Azizi Muslih UIN Walisongo Semarang
  • Fajar Adhim Nugraha UIN Walisongo Semarang
  • Lutfi Adil Fatih UIN Walisongo Semarang
  • Olivia Sofvi UIN Walisongo Semarang
  • M Rikza Chamami UIN Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.14421/thaq.2025.24203

Keywords:

Dugderan, Akulturasi, Budaya Jawa, Islam, Warak Ngendog, Masjid Agung Kauman

Abstract

Abstract: The Dugderan tradition in Semarang City is a cultural phenomenon rich in acculturation values between Javanese and Islamic culture. This study aims to describe its forms, analyze its meanings and values, and identify the historical process of acculturation within the Dugderan tradition centered at the Kauman Great Mosque of Semarang. Using a qualitative-historical approach, this study finds that Dugderan functions not only as an official marker for the beginning of the Ramadan fasting period, but also as a contextual medium of da'wah and a unifying force for a multicultural society. The most prominent expressions of acculturation appear in the symbols of Warak Ngendog and the ritual processions of “dug” (drum beating of the bedug) and “der” (cannon). The values contained include tolerance, self-purification (wara') before Ramadan, and joy. Historically, this tradition originated in 1881 AD during the reign of the Regent of Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat, as an effort to unite differences in determining the beginning of the fast among Muslims in Semarang. This research contributes to the literature on Nusantara Islamic studies and the preservation of local cultural heritage.

Abstrak: Tradisi Dugderan di Kota Semarang merupakan fenomena budaya yang kaya akan nilai akulturasi antara Budaya Jawa dan Islam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk, menganalisis makna dan nilai, serta mengidentifikasi proses historis akulturasi dalam tradisi Dugderan yang berpusat di Masjid Agung Kauman Semarang. Menggunakan pendekatan kualitatif- historis , studi ini menemukan bahwa Dugderan berfungsi tidak hanya sebagai penanda resmi dimulainya ibadah puasa Ramadan, tetapi juga sebagai media dakwah yang kontekstual dan pemersatu masyarakat multikultural. Wujud akulturasi yang paling menonjol tampak pada simbol Warak Ngendog dan prosesi ritual 'dug' (bedug) dan 'der' (meriam). Nilai-nilai yang terkandung mencakup toleransi, kesucian diri (wara') menjelang Ramadan, dan kegembiraan (sukacita). Secara historis, tradisi ini berawal sejak tahun 1881 Masehi pada masa pemerintahan Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat , sebagai upaya menyatukan perbedaan penentuan awal puasa di kalangan umat Islam Semarang. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur studi Islam Nusantara dan pelestarian warisan budaya lokal.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anwar, A. Z., & Muhsin, I. (2025). Akulturasi Budaya Jawa dan Islam pada Pelaksanaan Tradisi Ruwahan di Langensari Baluwarti Pasar Kliwon Surakarta. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 3 (4), 1780-1788.

Adhani, Lin-lin dan Siti Ekowati Rudini. (2026). Tradisi Saparan sebagai Akulturasi Budaya dan Nilai Kearifan Lokal di Dusun Ploso, Kota Salatiga. Jurnal SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah. Vol. 5, No. 2, February 2026

Ahmadi, M., & Alamsyah, A. (2020). Simbolisme dalam Tradisi Dugderan. Jurnal Kebudayaan, 14(2), 43-55. Diakses dari https://jurnalbudaya.or.id.

Azura, Raja., dkk. (2025) ANALISIS MAKNA DAN BENTUK SOLIDARITAS SOSIAL PADA TRADISI PEDAQ API MENGGUNAKAN TEORI EMILE DURKHEIM DI DESA RARANG TENGAH KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR. SocEd Sasambo Journal. Volume 3 | Nomor 4 | Tahun 2025

Budiyanti, R., & Setyawan, T. (2019). Fungsi Dugderan sebagai Media Dakwah dan Komu- nikasi Islam. Jurnal Komunikasi Islam, 11(1), 67-80. Diakses dari https://ejournal.uin- suka.ac.id.

Dzofir, Mohammad, 2017. Agama dan TradisiLokal(Studi Atas Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Desa Jepang, Mejobo, Kudus),Journal of Social Science Teaching,Kudus: STAIN Kudus, vol. 1.

Hardani, dkk., 2020. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu.

Hasanah, Ulfa, 2019. Arak-arak Simbol Warak Ngendog Sebagai Media Dakwah, al I’lam: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. Vol. 5 No.1 Herusatoto. 2003. Simbolisme Dalam Budaya Jawa, Yogyakarta: Hanindita Graha Widia

Haryanto, H. (2021). Islamisasi Budaya Jawa melalui Simbol-Simbol Lokal dalam Tradisi Dugderan. Jurnal Peradaban dan Sejarah Islam, 10(1), 50-68.

Hasanah, U. (2019). Arak-arakan Simbol Warak Ngendog Sebagai Media Dakwah. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, 3(1).

Hasanah Ulfatun, 2016, Penyelenggaraan Tradisi Dugderan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 (Studi Tentang Nilai-nilai Dakwah Islam) UIN Walisongo Semarang.

Nuraseh, Siti. (2023) Selamatan Bersih Desa sebagai Wujud Ucapan Syukur dalam Kontradiksi Budaya Jawa: Jaman Dahulu dan Sekarang. Sabdasastra :Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa. 7(1), 146-157, 2023

Kharis Ilman M, 2022, Relasi Kekuasaan dan Pengetahuan pada Tradisi Dugderan di Kota Semarang dalam Perspektif Michel Foucault, (UIN WalisongoSemarang)

Kompas.com. (2024, 7 Maret). Sejarah Dugderan, Wajah Keberagamaan Kota Semarang untuk Menyambut Ramadhan. Diakses dari https://www.kompas.com.

Laras, V. (2018). Fungsi Simbol Warak Ngendog dalam Tradisi Dugderan Semarang. Skripsi.

Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Matthew B. Miles, A. M. Huberman, & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Mujiyono, Rokhmat Nur, Triyanto, 2013, Warak Ngendog: Simbol Akulturasi Budaya Pada Karya Seni Rupa, (Jurnal Komunitas Universitas Negeri Semarang), hlm 5-8

Muhaimin, M. S. (2023). Wawancara Sejarah Dugderan di Semarang. Dokumentasi Peneliti. (Wawancara pribadi).

Rachmawati Nur Ayulia, 2019, Makna Warak Ngendog Bagi Masyarakat KotaSemarang (Kajian Antropologi Simbolik), Universitas Diponegoro Semarang

Rizky, S. (2013). Tradisi Dugderan di Semarang dan Perubahan Pelaksanaannya pada Tahun 2004-2009. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Salsabila Fara, 2021, Nilai-Nilai Religius Filosofis Tradisi Dugderan di Kampung Kauman Kota Semarang Tahun 2021, (IAIN Salatiga)

Supramono. 2007. Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang, Semarang: Tesis UNNES.

Syafe’i, Imam. 2015. Tujuan Pendidikan Islam, Jurnal Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam. Vol.6.

Tawabie, Siti Mubayanah dan Nasihun Amin. (2024). TRANSFORMASI MAKNA RITUAL DALAM MASYARAKAT MODERN: ANALISIS SOSIOLOGIS DAN BUDAYA. GAHWA: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. 3 No. 1, Desember 2024

Triyanto. 2013, Warak Ngendog Simbol Akulturasi Budaya Pada Karya Seni Rupa, JURNAL KOMUNITAS, jurusan seni rupa fakultas bahasa dan seni UNNES. Volume 5.

Downloads

Published

2025-12-27

Issue

Section

Research Article

How to Cite

Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Tradisi Dugderan di Masjid Agung Kauman Semarang: Bentuk, Makna dan Proses Historis. (2025). Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban Dan Informasi Islam, 24(2), 137-144. https://doi.org/10.14421/thaq.2025.24203

Similar Articles

21-30 of 100

You may also start an advanced similarity search for this article.