KETENTUAN NASAB ANAK SAH, TIDAK SAH, DAN ANAK HASIL TEKNOLOGI REPRODUKSI BUATAN MANUSIA: antara UU Perkawinan dan Fikih Konvensional

Afif Muamar

Abstract


The aim of marriage is for procreation, but the validity of the marriage itself also participating to determine the validity of the birth of children nasab later. Along with the times that any Islamic family law in Indonesia has undergone many changes. Because of that provision nasab legitimate child, illegitimate child of reproductive technology and man-made law was not immune from the effects of changes there. To respond this issue, it should be used instead of a reference source is limited to conventional Fiqh books, it means that it is ontinues logic of the completed product of what is called as “Islamic law”. Therefore, the Indonesian regulation—such as Law of Marriage No.1 (1974) and the Islamic Law Compilation—are the major references in answering the roblems, it certainly lead to unrest in the community on legal certainty.


[Salah satu tujuan perkawinan adalah untuk memperoleh keturunan, akan tetapi keabsahan perkawinan itu sendiri juga turut serta dalam menentukan keabsahan nasab anak yang dilahirkannya nanti. Seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi, hukum Keluarga Islam di Indonesia telah banyak mengalami perubahan. Karena itu, ketentuan nasab anak sah, tidak sah, dan anak hasil teknologi reproduksi buatan manusia pun hukumnya tidak luput dari pengaruh perubahan yang ada. Untuk memberikan jawaban atas perkembangan masalah di atas, maka sudah seharusnya sumber rujukan yang dipergunakan bukan terbatas pada kitab-kitab Fikih Konvensional saja, yang notabene sebagai
suatu kelanjutan logis atau salah satu produk jadi dari apa yang sering disebut sebagai hukum Islam. Karena itu, peraturan hukum di Indonesia–seperti Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI)—juga harus menjadi rujukan utama dalam menjawab permasalahan yang bisa saja suatu saat menimbulkan keresahan di masyarakat mengenai kepastian hukumnya.]


Keywords


nasab, anak sah, anak tidak sah, inseminasi buatan, kloning

Full Text:

PDF

References


Adhinarta, Yuzo, Hari Ini Domba, Besok Gembala, Sebuah Kritik terhadap Cloning dan Semangat Zaman, di http:// members. tripod.com/ ~GKA_Gloria/ feb98. htm.

Afnan, M. Chafidh dan A. Ma’ruf Asrori, Tradisi Islam, Surabaya: halista, 2006.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: PT. Intermasa, 1986.

Fathurrahman, IlmuWaris, Bandung: Al-Ma’arif, 1981.

Fujaya, Yushinta, (Ed.), ‘Tinjauan Aksiologi Teknologi Reproduksi, Manfaat dan Kerugian Penerapan Teknologi Reproduksi Implikasi

Theologika, Etika, Legalitas, dan Sosial’. Di htp://www.hayatiipb.com/ users/ rudyct/grp_paper01/kel5_012.htm.

Hasan, Ahmad bin, Fath al-Rahman, Surabaya: al-Hidayah, 1322 H.

http://tornnolover.blogspot.com/ 2008/09/kloning-pro-dan-kontra_ 14.html.

http://www.negarahukum.com/ hukum/ nasab-dalam-hukum-perka winanindonesia. html.

http://www.newadvent . org/ca then/12564a.htm.

h t t p : / / w w w . p t i q . a c . i d / index.php?option=com.

Khallaf, Abdul Wahhab, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, terj. Noer Iskandar Al-Barsany, Jakarta: Rajawali, 1989.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2007.

Kompilasi Hukum Islam (Inpres No. 1 Tahun 1991)

Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab, terj. Masykur A.B. dkk, cet. Ke- 18, Jakarta: Lentera, 2006.

Muloek, Nukman, Inseminasi (Permanian) Buatan dari Suami pada Pasangan Mandul, Jakarta: Fakultas Kedokteran UI, 1985.

Nuruddin, Amir dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2006.

Qardawi, Yusuf al-, Halal dan Haram dalam Islam, terj. Mu’amal Hamidy, Jakarta: Bina Ilmu, 1993.

Rafiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

Ramulyo, Mohd. Idris, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.

Ridha, Muhammad Rasyid, Tafsi>r al-Mana>r, jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, 1957.

Shaheb, Tahar M, Inseminasi Buatan Menurut Hukum Islam, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987.

Shihab, M. Quraish, Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, Jakarta: Lentera Hati, 2008.

Suyu>t}i>, al-Ima>m al-Rah}ma>n bin Abi Bakr al-, al-Asyba>h wa an-Naz}a>’ir, Beirut: Da>r al-Kutub, 2001.

Syalt}u>t}, Mah}mu>d, al-Fata>wa>, Kairo: Da>r al- Qalam, t.th.

Uddin, Yurnalis dkk., Reinterpretasi Hukum Islam tentang Aborsi, Jakarta: Universitas YARSI, 2006.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam Menurut Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali, Jakarta: PT. Hida Karya Agung, 1991.

Zallum, Abdul Qadim, Beberapa Problem Kontemporer dalam Pandangan Islam, Bangil: Al- Izzah, 1998.

Zuhaili, Wahbah Al-, al-Fiqh al-Isla>mi> wa Adillatuh, 8 jilid, Damaskus: Da>r al-Fikr, 1985.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Afif Muamar



 

Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International.

Address: Al-Ahwal Research Centre Department of Islamic Family Law, Faculty of Sharia and LawUIN Sunan Kalijaga 

Marsda Adisucipto Street No. 1 Yogyakarta 55281 Indonesia, Telp. 082339961357 (WA), Email: ahwal@uin-suka.ac.id