PUTUSAN MK NO.22 /PUU-XV /2017 TENTANG PERMOHONAN JUDICIAL REVIEW PASAl 7 AYAT (1) UU NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG USIA PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH
DOI:
https://doi.org/10.14421/ahwal.2018.11206Keywords:
Mahkamah Konstitusi, Batasan Usia Perkawinan, Diskriminasi, Kesamaan Di Depan Hukum, Kawin Paksa, Tujuan Hukum IslamAbstract
The Decision of Constitutional Court Number. 22 / puu-XV / 2017 granted the request for a judicial review againt article 7 paragraph 1 (one) of cositution Number. 1 of 1974 concerning the age limit of marriage. This article actually distinguishes the age of marriage for women and men. For women at least 16 years and for men 19 years. This distinction is discrimination against women's rights as citizens and not in accordance with the principle of equality before the law as stated in article 12 paragraph 1 of the constitution 1945. This discrimination has caused some women to be forced to marry at the age of under 16 years, which is detrimental to the right to education, reproductive health and life safety. This court ruling gives hope for women to be better in the future. This decision is in accordance with the Purpose of Islamic law, to realize the benefit and keep away from damage.
Artikel ini membahas tentang Putusan Mahkamah Konstutusi Nomor. 22/PUU-XV/2017 tentang Usia Perkawinan sebagai revisi terhadap Pasal 7 ayat 1( satu) undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang batasan usia perkawinan. Pasal ini secara nyata membedakan umur perkawinan bagi wanita dan laki-laki. Bagi wanita minimal 16 tahun dan bagi laki-laki 19 tahun. Pembedaan ini merupakan diskriminasi terhadap hak-hak wanita sebagai warga negara dan tidak sesuai dengan prinsip kesamaan di depan hukum sebagimana yang disebutkan dalam pasal 27 ayat 1 UUD tahun 1945. diskriminasi ini berdampak sebagian wanita dikawinkan secara paksa pada umur di bawah 16 tahun, yang merugikan hak mendapatkan pendidikan, kesehatan reproduksi, dan keselamatan jiwa. putusan mahkamah ini memberikan harapan bagi wanita untuk lebih baik pada masa yang kan datang. hal ini sesaui dengan tujuan dalam hukum Islam, merealisasikan kemaslahatan dan menjauhkan dari kerusakan.
References
Al-Imām Abī al- Husain Muslim bin al-Hajjāj, Şahīh Muslim, Cet. V (Beirut : Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2008.
Abd al-Wahhāb Khallāf, ‘Ilm uşūl al-Fiqh, edisi terbaru (Libanon: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971).
Abū Dāwūd Sulaimān al-Asy’at, Sunan Abī Dāwūd, (ttp: Dār al-Fikr, t.t.),
A. Hanafi, Usul Fikih , cet . 11( Jakarta: Wijaya, 1989).
Khoiruddin Nasution, “Filsafat Perkawinan Islam:Studi Interkoneksitas”, dalam Khoriruddin Nasution, Hukum Perkawinan dan Warisan di Dunia Muslim Modern, Cet. 1, (Yogyakarta, Pernerbir ACAdeMIA, 2012).
Kompilasi Hukum Islam, Inpres No. I tahun 1991
Muhammad Salām Mazkūr, Al-Ibāhah ‘Ind al-Uşūliyyīn Wa Al-Fuqahā, Cet. 2 (Kairo: Dār an-Nahdhah al-‘Arab, 1965).
Muhammad Yūsuf Mūsā. Ahkām Al-Ahwāl asy-Syakhsiyyah Fī al-fiqh al-Islāmī, Cet 1, (Mesir: Dār Al-Kutub Al-‘Arabi,1956).
Muşţafā abd al-Qīdir ‘Aţā, Ahkām az-Zawāj ‘Alā Al-Mażāhib al-Arba’ah, Cet 1 (Beirut: Dār Kutub Alilmiyah, 1986).
Muşţafā as-Sibā’ī, Syarh Qānūn al-Ahwāl asy-Syakhsiyyah, Juz I, Cet. 7 (Damsyiq: Maţba’ah Jaami’ah. 1966).
Salinan Putusan MK No. 30-7/PUU-XII/2014.
Salinan Putusan MK No.22/PUU-XV/2017.
UUD Tahun 1945
UU No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
UU No. 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan anak
UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi manusia
UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak
UU No. I tahun 1974 Tentang Perkawinan
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2020 Samsul Hadi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication. The works are simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.