Legal Interpretations of Qada Rawatib Prayers at Forbidden Times: Tarjih Analysis on the Badai’ as-Sanai’ fi Tartib asy-Syarai’ and al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab
Abstract
In an explicit manner, scholars have explained the ruling on performing qada rawatib prayers at forbidden times. However, some of the main fiqh books used as references do not clearly elaborate on the process of legal istinbat, such as how they chose the propositions used as the basis for the law. Essentially, the Prophet used to pray the ba'diyah zuhr prayer at a forbidden time (after 'asr). This narration is interpreted differently by Hanafiah and Shafi'iyah scholars with different arguments and corroborating evidence. This article aims to examine the reasons for the differences in the ruling on the ba'diyah zuhr prayer performed after 'asr, to find the similarities and differences, which are contained in the book Badai' as-Sanai' fi Tartib ash-Sharai' and the book al-Majmu' Syarh al-Muhazzab from the perspective of tarjih. This article is a literature research with a comparative analysis of the both books as the main source. The approach used is usul fiqh, more specifically the theory of tarjih in ta'arud al-adillah. On the basis of the tarjih analysis, the article finds that in Badai' as-Sanai' fi Tartib ash-Sharai', the qada of the zuhr ba'diyah prayer performed after 'asr is not allowed, with the argument that the hadith narration of Umm Salamah is specific to the Prophet. Meanwhile, in al-Majmu' Syarh al-Muhazzab, it is allowed to qada the prayer. These two books both use the tarjih method to produce these rulings with the enhancement of different arguments so that it affects the resulting law. This article contributes to the understanding of the legal istinbat method of qada of rawatib prayers at forbidden times from the perspective of ushul fiqh.
Secara eksplisit, para ulama telah menjelaskan hukum melaksanakan qada salat rawatib di waktu terlarang. Meskipun begitu, beberapa kitab fikih induk yang dijadikan rujukan tidak merinci secara jelas mengenai proses istinbat hukum, seperti bagaimana mereka memilih dalil yang dijadikan dasar hukum. Pada dasarnya, Nabi pernah melaksanakan salat ba’diyah zuhur di waktu terlarang (setelah asar. Riwayat ini dibaca secara berbeda oleh ulama Hanafiah dan Syafi’iyah dengan argument dan dalil penguat lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sebab perbedaan hukum qada salat sunah ba’diyah zuhur yang dilakukan setelah asar, menemukan persamaan dan perbedannya, yang terkandung dalam kitab Badai’ as-Sanai’ fi Tartib asy-Syarai’ dan kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab dari perspektif tarjih. Artikel ini merupakan penelitian kepustakaan dengan analisis komparatif dari kedua kitab tersebut sebagai sumber utama. Pendekatan yang digunakan adalah usul fiqh, lebih spesifik teori tarjih dalam ta’arud al-adillah. Berdasarkan analisis tarjih, artikel ini menemukan bahwa dalam kitab Badai’ as-Sanai’ fi Tartib asy-Syarai’, qada salat ba’diyah zuhur yang dilakukan setelah asar tidak diperbolehkan, dengan argumen bahwa riwayat hadis Ummu Salamah merupakan kekhususan bagi Rasulullah. Sedangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, diperbolehkan mengqada salat tersebut. Kedua kitab ini sama-sama menggunakan metode tarjih untuk menghasilkan hukum-hukum tersebut dengan penguatan dalil yang berbeda sehingga berpengaruh pada hukum yang dihasilkan. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman metode istinbat hukum qada salat rawatib di waktu terlarang dari perspektif ushul fiqh.
References
Abdurrahman, Hafidz. Ushul Fiqih - Membangun Paradigma Berpikir Tasyri’i. Bogor: Al Azhar Press, 2015.
Afriza, Fadillah. “Mengqadha Salat Maghrib Bagi Orang Berkendaraan Mobil Karena Kemacetan Menurut Ulama Al-Washliyah Dan Tokoh Muhammadiyah (Studi Kasus Di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai).” Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019.
Ajib, Muhammad. Klasifikasi Shalat Sunah dan Keutamaannya. Jakarta Selatan: Rumah Fiqh Publishing, 2020.
Al Hakim, Sofian. “Konsep dan Implementasi Al-‘Âmm Dan Al-Khâsh Dalam Peristiwa Hukum Kontemporer.” Asy-Syari’ah 17, no. 2 (2015). https://doi.org/10.15575/as.v17i2.651.
Albani, Muhammad Nashiruddin al-. Tamam al-Minnah fi al-Ta’liq ‘ala Fiqh al-Sunnah. ttp.: Dar ar-Rayah, t.t.
Ali, Nizar. Imam an-Nawawi (Metodologi dan Pemahaman Hadis): Kajian atas Kitab Sahih Muslim bi Sharh al-Nawawi. Yogyakarta: Pilar Media (Anggota IKAPI), 2007.
Amidi, Ali bin Muhammad al. al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam. Beirut: Dar al-Fikr, 1996.
———. al-Ihkam f Ushul al-Ahkam. Riyadh: Dar al Shimi’i, t.t.
Anas, Malik bin. Al-Muwatta’ li Imam Malik. Beirut: Dar al Kitab al Arabiy, 2004.
Arif, Suyud, dan Mulyadi Kosim. “Qadha Shalat Wajib dalam Perspektif 4 Mazhab.” Jurnal Pendidikan Tambusai 6 (2022).
Arsyad, Junaidi. “Aktivitas Rasulullah Saw. Sebagai Pendidik.” Nizhamiyah 6, no.2 (2016).
Atabik, Ahmad. “Metode Tarjih dalam Kajian Hadis,” Riwayah : Jurnal Studi Hadis 2, no. 1 (2017). https://doi.org/10.21043/riwayah.v2i1.2218.
Azhari, Susiknan. “Awal Waktu Shalat Subuh Di Dunia Islam.” Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum 5 (2017).
Ayyub, Hasan. Fiqh al-Ibadah bi Adillatiha fi al-Islam. Kairo: Dar as-Salam, 2003.
Badi’ah, Siti. “Metode Kritik Hadits di Kalangan Ilmuwan Hadis.” Al-Dzikra 9, No. 2 (2015).
Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Edisi Penyempurnaan, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019)
Ensiklopedia Hadis Lidwa Pusaka Versi 16.3.5. Saltanera, 2015.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Ofset, 1990.
Haitami, Sihabuddin Ahmad Ibn Hajar al-. Tuhfatu al-Muhtaj Fi Syarh al-Minhaj. 2. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Hanbal, Muhammad bin. Musnad Imam Ahmad, dengan judul asli Al Musnad li al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Jilid 22. Jakarta: Pustaka Azzam, 2011.
Haroen, Nasrun. Usul fiqh 1. Jakarta: Logos Publishing House, 1996.
Hasibuan, Muhammad Ali Sahbana. “Telaah Ta’arud al-adilah Atas Hadis-Hadis Tentang Pembacaan Salam Dalam Salat Yang Memakai Wabarakatuh dan Tanpa Wabarakatuh.” Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum 8, no. 2 (2020): 133. https://doi.org/10.14421/al-mazaahib.v8i2.2218.
Ibrahim, Duski. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah (Kaidah-Kaidah Fiqih). Palembang: Noer Fikri, 2019.
Jawami al-Kalim Versi 4.5, t.t.
Jaziri, Syekh Abdurahman al-. Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab (Mudah Memahami Fikih dengan Metode Skema). Diterjemahkan oleh Syarif Hademasyah dan Luqman Junaidi. Jakarta Selatan: Hikmah (PT Mizan Publika), 2005.
Kasani, Ala’ al-Din Abū Bakr bin Masʻūd al-. Badai’ as-Sanai’ fi Tartib asy-Syarai’. Jilid 1. Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 2003.
———. Badai’ as-Sanai’ fi Tartib asy-Syarai’. Jilid 2. Kairo: Dar al-Hadits, 2004.
Khairunnisa, Zahra. “Mengqadha Shalat Dalam Perspektif Hadis (Studi Hadis Tematik).” UIN Sultan Maulana Hasanudin, 2022.
Khalaf, ‘Abdul Wahab. ’Ilm Usul al-Fiqh. Kairo: Maktabah Dar al-Qalam, 1978.
Mardani. Usul fiqh . Jakarta: Rajawali Press, 2013.
Miftakhussyarif, Ahmad. “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Qada Shalat Oleh Anak Kepada Orang Tua.” UIN Raden Intan, 2023.
Miswanto, Agus. Usul fiqh Metode Istinbath Hukum Islam Jilid 1. Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama, 2019.
Muafa. Mengenal Kitab al-Majmu’ Karya an-Nawawi. Pondok Pesantren Irtaqi (blog), 8 November 2017. https://irtaqi.net/2017/11/08/mengenal-kitab-al-majmu-karya-nawawi/.
Mubarakfuri, Abu al Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-. Tuhfatu Awazi bi Syarh at-Tirmizi. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.
Muchtar, Asmaji. Dialog Lintas Mazhab: Fiqh Ibadah dan Muamalah. Jakarta: Amzah, t.t.
Mustangin, Akhmad. “Hukum Mengqada Salat Yang Ditinggalkan Secara Sengaja Perspektif Imam an-Nawawi Dan Ibnu Hazm.” Universitas Islam Negeri PROF. K. H. Saifuddin Zuhri, 2022.
Nasa’i, Abi ‘Abdurrahman Ahmad Ibn Su’aib an-. Sunan an-Nasa’i. Beirut: Dar Ihya' at-Turath al-Arabiy, t.t.
Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-. al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. 3. Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t.
———. al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. 4. Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t.
———. Raudhatu ath-Thalibin. Diterjemahkan oleh Muhyiddin Mas Rida, Abdurrahman Siregar, dan Muh Abidin Zuhri. Jilid 1. Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.
¬¬ ———. Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-. Sahih Muslim bi Syarh an-Nawawi. 4 ed. Jilid 3. Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2010.
Naisaburi, Imam Abi Al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi an-. Sahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
Putra, Rozi Dirgantara. “Perbedaan Pelaksanaan Qadha Salat Sunah Qabliyah Subuh Menurut Abū Hanifah dan Imam Syafi’i.” UIN Sunan Kalijaga, 2019.
Putri Eka Ramadhani. “Ta’arud al-Adillah: Metode Memahami Dalil dalam Penyelesaian Persoalan Hukum.” Mahadi: Indonesia Journal of Law 1, no. 2 (2022): 313–31. https://doi.org/10.32734/mah.v1i2.9513.
Rahbawi, Abdul Qadir ar-. Fikih Shalat Empat Madzhab. Diterjemahkan oleh Abu Firly Bassam Taqly. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017.
Rosidah, Hanik Atul. “Hukum Melakukan Sujud Antara Mendahulukan Tangan Dan Mendahulukan Lutut (Telaah Ta’arud al-adillah Atas Hadis-Hadis Terkait).” Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum 7, no. 1 (2019): 73. https://doi.org/10.14421/al-mazaahib.v7i1.2204.
Rubiyanah, dan Abdul Jalil. “Urgensi Ilmu Mukhtalif Al-Hadits dalam Ijtihad: Telaah atas Hukum Menjama’ dan Mengqadha Shalat.” Andragogi: Jurnal Diklat Teknis Pendidikan dan Keagamaan 8, no. 2 (2020): 581–99. https://doi.org/10.36052/andragogi.v8i2.184.
Sabiq, Sayyid. Fiqih Shalat. Diterjemahkan oleh Zenal Muttaqin. Jakarta: Jabal, 2009.
Saifulloh, Kholid. “Mengqadha Salat dalam Perspektif Fiqh.” al-Majaalis, 2, no.7 (2020).
San'ani, Muhammad bin Ismail Al-Amir ash-. Subulus Salam: Syarah Bulugul Maram, trans. oleh Ali Fauzan, Darwis, Ghanaim. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2014.
Sarwat, Ahmad. Mazhab Hanafi Tokoh Ulama dan Kitab. Jakarta Selatan: Rumah Fiqh Publishing, t.t.
———. Qadha Shalat Sunah yang Terlewat Haruskah?, t.t.
Shiddieqy, Hasbi ash-. Pedoman Shalat. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999.
———. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis (2). Jakarta: Bulan Bintang, t.t.
———. Sejarah Perkembangan dan Pertumbuhan Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1970.
Solikhin, Muhammad. Panduan Shalat Sunah Lengkap: 80 Ibadah Shalat Para Kekasih Allah (Kitab Fikih Pedoman Shalat Sunah Lengkap). Jakarta: PT Elex Media Komputindo, t.t.
Syafi’i, Muhammad bin Idris. al-Risalah asy-. Juz 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005.
Umar, Subehan Khalik dan Mujaddid. “Ta’arud al-adilah Dalam Mukhtalif Al-hadis Menurut Muhammad Hashim Kamali.” Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah 2, no. 1 (28 Juli 2022): 40–53. https://doi.org/10.24252/ihyaussunnah.v2i1.30691.
Usaimin, Syaikh Muhammad Saleh al-. Riyadus Sholihin. Jakarta: Arbar Media, 2010.
Vandestra, Muhammad. Kitab Hadis Imam an-Nasa’i. Dragon Promedia, 2018.
Zuhaili, Wahbah az-. Terjemahan Fiqh Islam Wa Adilatuhu. Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani. 10 ed. 1. Depok: Gema Insani, 2007.
———. Terjemahan Fiqh Islam Wa Adilatuhu. 10 ed. 2. Depok: Gema Insani, 2007.
———. Usūl al-Fiqh al-Islami. I. Damaskus: Dar al-Fikr, 1986.
Zuhli, Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani az-. Musnad Ahmad. Kairo: Darul Hadis, t.t.
Authors
Copyright (c) 2024 Dianita Rahma Dina

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication, i.e. this journal.
- Authors also grant any third party the right to use the article freely as long as its integrity is maintained and its original authors, citation details, and publisher are identified.