BATAK PARDEMBANAN: Social Construction and the Choice of Malay-Islamic Identity

Main Article Content

Sakti Ritonga

Abstract

Studi ini mengkaji bagaimana identitas berkembang sebagai sebuah pilihan melalui kasus orang-orang Batak Toba yang bermigrasi ke wilayah pantai Timur Sumatera di wilayah perbatasan Asahan. Perantauan dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan keterputusan terhadap wilayah asal dan kekaburan silsilah tarombo, seperti pada kasus Simargolang dan Nahombang marga raja-raja kampung, sebagai unit analisis studi. Strategi adaptasi memudahkan perpindahan dilakukan melalui pengambilan identitas Melayu-Islam dengan cara mengganti nama diri, penyembunyian marga dan masuk Islam. Siasat adaptasi tersebut dilakukan orang Batak Toba disebabkan menguatnya konflik kelompok kesukuan antara Melayu-Islam dengan kelompok suku lain di wilayah pesisir Pantai Sumatera, kaitannya dengan politik kolonisasi Belanda. Studi ini menemukan sesungguhnya istilah Pardembanan adalah konstruksi sosial dari orang luar kelompok mereka, konstruksi para etnografer, penulis sejarah awal serta bentukan kolonial Belanda yang kemudian dilanjutkan para peneliti tentang studi migran Batak Toba untuk membedakan migran Batak Toba berdasarkan karakternya. Satu karakter penting pada orang Batak Pardembanan adalah masuknya pengaruh Islam sebagai unsur utama pada praktik kehidupan mereka. Pada konteks studi Antropologi tentang identitas kelompok sosial temuan penelitian ini signifikan menunjukkan bahwa identitas merupakan pilihan dan ditentukan kelompok sosial itu sendiri.

Article Details

How to Cite
Ritonga, S. (2023). BATAK PARDEMBANAN: Social Construction and the Choice of Malay-Islamic Identity. Jurnal Sosiologi Agama, 17(2), 141–158. https://doi.org/10.14421/jsa.2023.172-01
Section
Articles

References

Bungaran Antonius Simanjuntak. (2002). Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba. Jendela.

Dzul Fadli Sya’bana, S. W. (2021). KAUM MODERNIS DI NUSANTARA: Jami’at Khair. Islamijah: Journal of Islamic Social Sciences, 2(3).

Ikhsan, E. (2015). Konflik Tanah Ulayat dan Pluralisme Hukum: Hilangnya Ruang Hidup Orang Melayu Deli. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Karl. J. Pelzer. (1985). Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863-1947 (J. Rumbo (trans.)). Sinar Harapan.

Lombard, D. (2007). Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kepustakaan Populer Gramedia.

Marbun, M. ., Marbun, L., & Toruan, N. L. (2017). Kamus Budaya Batak Toba. CV. Mitra Medan.

Muljana, S. (1968). Runtuhnja Keradjaan Hindu-Jawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara. Bhratara.

Nainggolan, T. (2012). Batak Toba di Jakarta: Kontinuitas dan Perubahan Identitas. Penerbit Bina Media Perintis.

Pelly, U. (1994). Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. LP3ES.

Perre, D. (2010). Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut (W. Saraswati (trans.)). Gramedia.

Purba, O. H. S., & Purba, E. F. (1997). Migrasi Spontan Batak Toba (Marserak): Sebab, Motif dan Akibat Perpindahan Penduduk dari Dataran Tinggi Toba. Monora.

Purba, O. H. S., & Purba, E. F. (1998). Migran Batak Toba di Luar Tapanuli Utara: Suatu Deskripsi. Monora.

Reid, A. (2007). Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Yayasan Obor Indonesia.

Reid, A. (2011). Reid, Anthony. 2011. Menuju Sejarah Sumatera: Antara Indonesia dan Dunia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Simanjuntak, B. A. (2006). Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945: Suatu Pendekatan Sejarah, Antropologi Budaya Politik. Yayasan Obor Indonesia.

Vergouwen, J. C. (1986). Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. LkiS.

Wardi, S., & Arif, Z. (2023). A Critical Review on The Law of Cina Buta (Chinese Blind) According to Shaykh Abdul Qadir Bin Abdul Muthalib Al Mandili Al Indonesia Al Shafi’i. Diktum: Jurnal Syariah Dan Hukum, 21(1), 15–23. https://doi.org/https://doi.org/10.35905/diktum.v21i1.4954

William Marsden. (2016). Sejarah Sumatera. Indoliterasi.