Dialek Laki-Laki dan Perempuan dalam Konteks Bahasa Arab

  • Raswan Raswan Pendidikan Bahasa
Keywords: dialect, language, male, female

Abstract

Abstract

This article aims to analyze the difference between male and female dialects in Arabic-speaking. The result is that the difference between the two, that men tend to speak with a high tone, a rather sharp voice, to the point, clear, quick response and not afraid to debate and give contention for things that do not fit him. The voices of women are sharper and shrilly, clear in pronunciation, and more ambitious to recite the vocabulary and sentence correctly than that of men. In addition, usually, women use some vocabulary that is not used by men. Among other things, women use a large number of colors, such as muf, tarkawaz, bij, zuhri and bunai that are typical for women and rarely used by men and men have distinctive colors as well for them. Furthermore, male language shows more the power of rationale while female language reveals more power of taste. The form of sound (women usually change the sound of letters into other letters typical of women), the selection and use of words, the use of forms of address, the forms of sentences and meanings as well as the way of delivering the language itself (pragmatic) which is reflected in the caution while using the language even in the use of signs by body language. There is a language that is typical of women and men. If it is not used by the right gender, others will mock them in respond to the language they use. However, there are also those who say that what is meant by men is not gender but what in psychological terms is known as masculine. And woman is meant as feminine. Therefore, differences always arise, and femininity is always considered lower compared to masculine. It is almost a fact that it occurs in all languages in the world even in countries that have parental systems such as America and Europe. The differences that occur are caused by biological, sociological and cultural factors which overshadow the existence of the language. In learning a language, it is recommended to pay attention to aspects of male and female dialects.

Keywords: Dialect, Language, Male, Female.

 

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara dialek laki -laki dan perempuan dalam berbahasa Arab. Hasil yang diperoleh adalah bahwa perbedaan pada keduanya, bahwa laki-laki cenderung berbicara dengan nada yang tinggi, suara yang agak tajam, to the point, jelas, cepat tanggap dan tidak takut mendebat serta memberikan sanggahan atas hal-hal yang kurang pas baginya. Suara perempuan lebih tajam dan lebih tinggi (melengking), lebih jelas dalam pelafalannya, lebih berambisi melafalkan dengan benar kosakata dan kalimat dari pada laki -laki. Di samping itu, biasanya, perempuan menggunakan beberapa kosakata yang tidak dipakai oleh laki-laki. Antara lain, perempuan menggunakan sejumlah besar warna, seperti muf, tarkawaz, bij, zuhri dan bunai yang khas untuk wanita dan jarang dipakai oleh laki-laki dan laki-laki memiliki warna yang khas juga untuk laki-laki. Selanjutnya bahasa laki-laki lebih menunjukan kekuatan rasio sementara bahasa perempuan lebih mengungkap kekuatan rasa. Bentuk suara (perempuan biasa merubah suara huruf menjadi huruf lain khas perempuan), pemilihan dan pemakaian kata, pemakaian bentuk panggilan, bentuk kalimat dan makna serta cara penyampaian bahasa itu sendiri (pragmatis) yang tercermin dalam kehati-hatian dalam berbahasa bahkan dalam penggunaan isyarat anggota tubuh. Ada bahasa yang khas perempuan dan ada laki-laki, jika dipakai bukan oleh jenis kelamin yang tepat maka akan menimbulkan olok-olok orang lain. Namun tentunya ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laki-laki bukan jenis kelamin melainkan apa yang dalam istilah psikologi dikenal dengan nama maskulin. Sebaliknya wanita yang dimaksud adalah feminim. Jadi perbedaan itu selalu muncul, dan bahwa feminim selalu mendapatkan posisi di bawah dibandingkan dengan maskulin adalah hampir merupakan fakta yang terjadi di semua bahasa di dunia bahkan di negara yang menganut sistem parental sekalipun seperti Amerika dan Eropa. Perbedaan yang terjadi disebabkan oleh faktor biologis, sosiologis dan budaya yang menaungi keberadaan bahasa tersebut. Dalam pembelajaran disarankan memperhatikan aspek dialek laki-laki dan perempuan.

Kata Kunci: Dialek, Bahasa, Laki-laki, Perempuan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Basaria, Ida, Stereotif Gender dalam Bentuk Perintah bahasa Batak Toba, Staf Pengajar Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Kehutana, Fakultas Pertanian, USU.

Chaer Abdul, Psikolinguistik Kajian Teoretik, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, cet. ke1.

Cowan, J. Milton, Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Ithaca, New York: Spoken Language Services.Inc., 1976, cet. ke. 3.

Hodidjah, Erspektif Gender Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia, Widyaiswara Bdk Palembang

Mesrianty, Diglosia dalam Bahasa Arab Perspektif Sosial Budaya, Tesis Pascasarjana UIN Jakarta 2010, Pembimbing . Dardiri.

Munjin, Studi Gender Dan Anak Ekspresi Bahasa dan Gender: Sebuah Kajian Sosiolinguistik Jurnal Ying Yang.

Nahlah, Mahmûd Ahmad, Afâq Jadȋdah fi al-Bahts al-Lughawy al-Mu'âshir, Dâr al-Ma'rifah al-Jâmi'iyyah, Iskandariyyah.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: 2008, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Rauf, Abd bin Dato' Hassan Azhari, Sejarah dan Asal Usul Bahasa Arab: Satu Kajian Linguistik Sejarawi, Universiti Putra Malaysia Press: Pertanika J. Soc. Jarah Sci. & Hum. Vol. 12 No. 2 2004.

Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”Error! Hyperlink reference not valid. diunduh 18 September 2012.

Studi Linguistik, bisa didowload di internet dalam format PDF

Sudjianto, Jender, Wanita, Dan Bahasa Jepang

Sunardi, diferensiasi linguistik berdasarkan gender dalam teks sastra inggris, Lguistika: universitas mulawarman samarinda, kaltim, vol. 14, no. 27, september 2007 sk akreditasi nomor: 39/dikti/kep. 2004.

Sunardi, Diferensiasi Linguistik Terhadap Gender Dalam Teks Sastra Inggris, Linguistika Vol. 14, No. 27, September 2007 SK Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim, 2005-2006.

Ya'qûb, Amȋl Badȋ', Fiqh al-Lugah al-'Arabiyyah wa Khashâishuhâ, Beirut: Dâr al-'Ilm li al-Malâyȋn, 1986.

Raswan, Raswan. "The Implementation of Contrastive Analysis-Based Arabic Learning." Alsinatuna 4.1 (2018): 49-67.‏

Raswan, Raswan. "Pengaruh Metode Pembelajaran Eklektik Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab Siswa." Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban 5.1 (2018): 121-140.‏

Raswan, Raswan. "Hisāb Ikhtibār al-Lughah al-‘Arabiyyah ‘Alā al-Mustawa al Wathany li L-Madāris as-Tsānawiyyah al-Islāmiyyah fī Indonesiā." Jurnal Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati 3.1 (2017): 95-108.‏

Himam, Muhammad Wafaul, and Raswan Raswan. "Tamyiz; Model Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Qur’an." Lisanul'Arab: Journal of Arabic Learning and Teaching 6.1 (2017): 18-28.‏

أهمية الاتصال و عوامل نجاحه، faculty.kfupm.edu.sa/.../Communicat. مقتطفة في اليوم الثلثاء، 09 أكتوبر 2012.

رشدي أحمد طعيمة ومحمود كامل الناقة، تعليم اللغة اتصاليا بين المناهج والاستراتيجية، إسسكو: منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والثقافة، 2006.

لغة المرأة مقابل لغة الرجال http://www.mo22.com 18 september 2012

معلوف، لويس, المنجد في اللغة و الإعلام, ( بيروت: المكتبة الشرقية, 1982م ).

نوح بن يحيى الشهري، مهارة الاتصال، كلية الأداب، قسم اللغة العربية. www.nnooh.com . مقتطف في الثلاثاء، 9 أكتوبر 2012.

Published
2019-12-31
Section
Articles