Strategi Advokasi Perempuan Difabel Korban Kekerasan di SAPDA

Sulistyary Ardiyantika
* Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Gunung Kidul

DOI: https://doi.org/10.14421/ijds.030203

Abstract


There two objectives of the current study: First, it is to explain the advocacy strategy used by SAPDA (one prominent Yogyakarta based NGO) for the victims of violence among women with disabilities. Second, barriers they face in doing the advocacy for the women with disabilities. This study identifies three levels of advocacy by SAPDA: micro, mezzo, and macro – modelling them with the typical social work intervensions. The research shows that SAPDA mostly use the mezzo level of advocacy. It is related to the barriers they face in developing advocacy at the other levels. These barriers include the internal barriers such as the human resources; lack of control over advocacy policy; poor planning and management. In addition, there are also what consitute external barriers: management, staffs recruitment, and poor training.

[Penelitian ini mempunyai dua tujuan: Pertama, untuk menjelaskan strategi advokasi yang dilakukan SAPDA (Satuan Advokasi Perempuan dan Anak Difabel) terhadap perempuan difabel korban kekerasan. Kedua, menjelaskan hambatan yang dihadapi SAPDA dalam melaksanakan advokasi terhadap perempuan difabel korban kekerasan. Penelitian menunjukkan bahwa strategi advokasi yang dilakukan SAPDA dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu (1). Mikro, (2). Mezzo dan (3). Makro. Dalam implementasinya, strategi Mezzo merupakan strategi yang paling dominan digunakan oleh SAPDA hingga saat ini. Adapun faktor penghambat terlaksananya advokasi secara internal adalah: (a) Lemahnya sumber daya manusia; (b) Kontrol yang kurang memadai; dan (c) Sistem perencanaan dan pengembangan manajemen yang lemah.  Sedangkan kendala dari faktor eksternal meliputi: (a) Manajemen yang belum maksimal, (b) Rekrutmen dan seleksi yang kurang tepat; dan (c) Training yang kurang mengenai pendataan klien.]

Keywords


advocacy; disability advocacy; women with disabilities; violence against women with disabilities; SAPDA; perempuan difabel; difabel korban kekerasan; advokasi difabel

Full Text:

PDF

References


Aisya. (2016a, April 9).

Aisya. (2016b, April 28).

Amina. (2016a, April 12).

Amina. (2016b, May 9).

Fakih, M. (2002). Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Insist Press.

Fatima. (2016, April 9).

Idris. (2016, April 28).

Lestari, N. A. (2015). Perlindungan Hukum terhadap Difabel. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Retrieved from http://opac.uin-suka.ac.id/?

Lund, E. M. (2011). Community-Based Services and Interventions for Adults With Disabilities Who Have Experienced Interpersonal Violence: A Review of the Literature. Trauma, Violence, & Abuse Trauma, Violence, & Abuse, 12(4), 171–182.

Martha, A. E. (2003). Perempuan, Kekerasan, Dan Hukum. Jogjakarta: UII Press.

Prayitno, & Amti, E. (1994). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rineka Cipta.

Ro’fah. (2013). Makalah untuk Seminar Pusat Studi Gender dan Anak di UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Salim, I. (2016). Perspektif Disabilitas dalam Pemilu 2014 dan Kontribusi Gerakan Difabel Indonesia bagi Terbangunnya Pemilu Inklusif di Indonesia. The POLITICS : Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 1(2), 127–156.

Sands, T. (2005). A Voice of Our Own: Advocacy by Women with Disability in Australia and the Pacific. GENDER AND DEVELOPMENT, 13(3), 51–62.

Setiati, P. M., & Mince, S. (2014). Sewindu SAPDA: Transformasi Diri, Menggerakkan Perubahan. Yogyakarta: SAPDA. Retrieved from http://buku.kabarkita.org/56250-sewindu-sapda-transformasi-diri-menggerakkan-perubahan

Suharto, E. (2009). Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Syafi’ie, M., Purwanti, & Ali, M. (2014). Potret Difabel Berhadapan dengan Hukum Negara. Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB).

Szeli, É., & Pallaska, D. (2004). Violence Against Women with Mental Disabilities: The Invisible Victims in CEE/NIS Countries. Feminist Review, (76), 117–119.




Copyright (c) 2016 Sulistyary Ardiyantika