Hiperrealitas dalam Pemasaran Langsung Kerupuk Purnama oleh Tunanetra

Novelia Novelia
* Universitas Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/ijds.040202

Abstract


This study examines hyperreality in direct marketing process of Kerupuk Purnama conducted by the blind. The hyperreality phenomenon is explained through four stages of imaging based on Jean Baudrillard’s theory. The data were collected through in-depth interviews and observation of the principal informants chosen purposively, four blind sellers of Kerupuk Purnama, as well as interviews with the secondary informants, two ordinary people who had experience in buying the related product. The results showed the happening of hyperreality in direct marketing of Kerupuk Purnama done by the blind. Consumers do not buy the product essence, but the sign that they care about the seller who is considered weaker. The study provides a theoretical contribution to Richard Perloff's interpersonal persuasion technique that persuasion should not start with initial offering but also can be done with praises and warnings of the norm at the end of the process to lure the persuasion targets' addiction.

[Penelitian ini mengkaji hiperrealitas dalam proses pemasaran langsung produk Kerupuk Purnama yang dilakukan oleh penyandang tunanetra. Fenomena hiperrealitas dijelaskan melalui empat tahapan pencitraan sesuai teori yang dikemukakan Jean Baudrillard. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode wawancara mendalam dan observasi terhadap informan utama yang dipilih secara purposive, yaitu empat tunanetra penjual Kerupuk Purnama, serta wawancara terhadap informan pendukung, yaitu dua orang masyarakat umum yang memiliki pengalaman membeli produk terkait. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya hiperrealitas dalam proses pemasaran langsung Kerupuk Purnama yang dilakukan oleh penyandang tunanetra. Konsumen tidak membeli esensi produk, namun tanda bahwa ia peduli terhadap penjualnya yang dianggap lebih lemah. Penelitian memberikan sumbangan teoritis terhadap teknik persuasi interpersonal Richard Perloff, bahwa teknik persuasi tidak harus dimulai dengan penawaran di awal proses, namun dapat dilakukan dengan pujian dan peringatan terhadap norma di akhir proses untuk memancing adiksi pihak terpersuasi.]


Keywords


Hyperreality; Blind; Marketing; Persuassion; Branding

Full Text:

PDF

References


AM. (2017, March 6). Wawancara.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation. (S. F. Glaser, Trans.). Michigan: Ann Arbor - University of Michigan Press.

Bonardo, M. A. (2015, August 31). Komodifikasi Disabilitas Sebagai Tayangan Populer di Televisi (masters). Postgraduate Program in Communication Studies. Retrieved from http://eprints.undih.ac.id/46912/

ES. (2017, March 18). Wawancara.

Foucault, M. (1977). Discipline and punish: the birth of the prision. New York: Vintage Books.

Indah Yayasan Mitra Netra. (2017). Wawancara.

Kotler, H., & Keller, K. L. (2012). Marketing management. Upper Saddle River,N.J.: Pearson/Prentice Hall.

Mubarok, M. H. (2009). Strategi Korporat dan Persaingan dalam Meraih Keunggulan Kompetitif. Yogyakarta: Idea Press.

Muharram, D. (2017, April). Seminar Peluncuran Aplikasi Ayobaca.in.

Perloff, R. M. (2002). The dynamics of persuasion. Mahwah, N.J.; London: Lawrence Erlbaum.

Surwanti, A., & Hindasah, L. (2013). Model Pemberdayaan Ekonomi Penyandang Disabilitas di Indonesia (Working Paper). Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Retrieved from http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/2403

YS. (2017, March 21). Wawancara.




Copyright (c) 2017 NOVELIA