Tradisi Rabu Wekasan dalam Persepsi Milenial

Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNNES

Authors

  • Fafi Masiroh Pesantren Riset Al-Muhtada
  • Rikha Zulia
  • Azkia Shofani Aulia

DOI:

https://doi.org/10.14421/panangkaran.v6i2.2852

Keywords:

Millenials, Perception, Tradition, Rabu Wekasan

Abstract

The Rabu Wekasan tradition deal with islamic values because it was made from the assimilation of Javanese and Islamic cultures. The implementation of The Rabu Wekasan tradition gives pro and contra from various circles, this condition impend continuity of the tradition. The cultural action need to be carried out through society participation, especially millennials as the next generation of this country have to save the Rabu Wekasan traditions and rituals. The  information about millennial perceptions of The Rabu Wekasan tradition is very important to explore as a reference about the next actions of them in continuity of The Rabu Wekasan tradition. This study aims to tell the history of The Rabu Wekasan tradition and to analyze the perceptions of the Semarang State University Faculty of Social Sciences students as millenials about The Rabu Wekasan tradition. This research was conducted through observation, interviews, questionnaires and literature study. Sources of data collected are reduced, analyzed then concluded. The results show that The Rabu Wekasan tradition have a beginning from the worship of the Javanese people which then developed into a tradition. This is supported by it name which comes from the Javanese language. Millennial perceptions of The Rabu Wekasan tradition are positive, based on 100 students, 91% said that The Rabu Wekasan tradition is important to take care of, 82% felt responsible for take care of, 75% answered that the tradition is useful because it is a local identity and rich in meaning of life.

[Tradisi Rabu Wekasan berkaitan erat dengan nilai-nilai Islam karena lahir dari asimilasi budaya Jawa dan Islam. Tradisi Rabu Wekasan dalam pelaksanaannya menuai pro dan kontra di berbagai kalangan, sehingga mengancam kelestarian tradisi tersebut. Gerakan kultural perlu dilakukan melalui andil masyarakat khususnya milenial sebagai penerus bangsa untuk menjaga tradisi dan ritualnya. Informasi terkait persepsi milenial terhadap Rabu Wekasan sangatlah penting untuk digali dalam rangka menjaga kelestarian tradisi tersebut, dan juga sebagai acuan untuk mengetahui tindakan milenial selanjutnya dalam melestarikan Rabu Wekasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejarah Rabu Wekasan serta menganalisis persepsi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang terhadap Rabu Wekasan. Penelitian dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Sumber data yang terkumpul direduksi, dianalisis kemudian ditarik kesimpulan. Hasilnya didapatkan bahwa sejarah Rabu Wekasan berasal dari ibadah yang dilakukan masyarakat Jawa kemudian berkembang menjadi tradisi. Hal tersebut didukung dengan namannya yang berasal dari Bahasa Jawa. Persepsi milenial terhadap Rabu Wekasan merupakan persepsi positif, yang ditunjukkan dari 100 mahasiswa, 91% mengatakan bahwa Rabu Wekasan penting untuk dilestarikan, 82% merasa bertanggung jawab untuk melestarikan, 75% menjawab tradisi tersebut bermanfaat karena merupakan identitas lokal serta kaya akan pembelajaran dan makna hidup.]

Downloads

Download data is not yet available.

References

Dzofir. (2017). Agama Dan Tradisi Lokal(Studi Atas Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Desa Jepang, Mejobo, Kudus). Jurnal Ijtimaiya, 1(1), 124.

Farida, Umma. (2019). Rebo Wekasan Menurut Perspektif Kh. Abdul Hamid Dalam Kanz Al-Najāḥ Wa Al-Surūr. Jurnal Theologia,30(2), 268.

Indah, etall. (2016). Profil Generasi Millenial. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Indra, Sukma. (2018). Analisis Persepsi Mahasiswa Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing. Jurnal Penelitian Ekonomi dan Bisnis, 3(1), 8.

Listyana, Rohmaul& Hartono, Yudi. (2015). Persepsi Dan Sikap Masyarakat Terhadap Penanggalan Jawa Dalam Penentuan Waktu Pernikahan (Studi Kasus Desa Jonggrang Kecamatan Barat Kabupaten Magetan Tahun 2013). Jurnal Agastya, 5(1), 121-136.

Martono, N. (2010). Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mutingatul, Khoeroh (2019) Sejarah dan Makna Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Skripsi Thesis, IAIN Purwokerto.

Nurjannah, Siti. (2017). Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan Di Pondok Pesantren Mqhs Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon. Diya’ Al-Afkar: Jurnal Studi Al-Quran dan Al-Hadis, 5(1), 221.

Nurozi.(2016). Rebo Wekasan Dalam Ranah Sosial Keagamaan Di Kabupaten Tegal Jawa Tengah (Analisis Terhadap Ritual Rebo Wekasan Di Desa SitanjungLebaksiu). Jurnal An Nuha, 3(1), 131.

Pamungkas, S., & Setyowati, E. (2016). Tradisi Rebo Wekasan (Tradisi Tolak Balak)(Studi Kasus Pemertahanan Bahasa dan Budaya Jawa di Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur). International Seminar onLanguageMaintenanceandShift (LAMAS) 6: EmpoweringFamilies, Schools, and Media forMaintainingIndigenousLanguages, 9-10 Agustus 2016 (hal. 125-129). Semarang: Universitas Diponegoro.

Ranjabar, Jacobus. (2006). Sistem Sosial Budaya Indonesia: Suatu Pengantar. Bogor: PT. Ghalia Indonesia.

Saputra, dkk.(2017). Merajut Kearifan Lokal: Tradisi Dan Ritual Dalam Arus Global. PIBSI XXXIX: Semarang.

Shofwan, A. M. A. M. (2021). Fadilah Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam Tinjauan Hizib Wali Tarekat Nusantara. Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat, 5(2), 186-208.

Downloads

Published

2022-12-27

How to Cite

Fafi Masiroh, Rikha Zulia, & Azkia Shofani Aulia. (2022). Tradisi Rabu Wekasan dalam Persepsi Milenial: Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNNES. Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama Dan Masyarakat, 6(2), 242–253. https://doi.org/10.14421/panangkaran.v6i2.2852

Issue

Section

Articles
Abstract Viewed = 467 times | PDF downloaded = 804 times