PERAN RELAWAN TERHADAP KEMANDIRIAN DIFABEL DI PLD UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Neni Rosita


DOI: https://doi.org/10.14421/ijds.2201

Abstract


Fakta difabel di UIN Sunan Kalijaga belum semua bisa mandiri, disebabkan ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukan sendiri seperti mencari buku diperpustakaan, mengedit tugas untuk difabel netra. Oleh karena itu, mahasiswa difabel membutuhkan peranan relawan, dalam proses menjalankan pendidikan di perguruan tinggi, yang aksesibilitasnya belum tercipta secara holistic dan konprehensif. Berdasarkan paparan tersebut maka penting untuk dilakukannya  penelitian terkait dengan bagaimana peran relawan Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga dan bagaimana kemandirian yang dimiliki oleh mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga yang bergabung di PLD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan jenis penelitian lapangan, data primier berupa observasi dan wawancara beberapa relawan dan mahasiswa difabel yang juga sebagai subjek dalam penelitian ini. Adapun hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, Peran relawan di Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga yakni pendampingan kuliah untuk difabel rungu dan pendampingan ujian untuk difabel netra serta pengenalan mobilitas kampus terhadap semua difabel. Sehingga dapat memudahkan dalam mengenal lingkungan di UIN Sunan Kalijaga. Relawan berperan dalam menjembatani difabel agar dapat menyuarakan hak­haknya di hadapan publik. Kedua, Kemandirian difabel terlihat pada kemandirian belajar di kampus UIN Sunan Kalijaga yang dapat mengikuti kuliah dan pelajaran dengan baik. Baik dalam menyelesaikan dan mengedit tugas, membaca buku, dan keperpustakaan. Difabel yang mandiri mampu bersaing dan selalu optimis dalam setiap situasi yang dihadapi.

Keywords


Relawan; Volunteer; Difabel; Persons with Disability

Full Text:

PDF

References


Ali, M. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta, 2005. Arbeiter SamariterBun (ASB), Sekarang Aku Bisa: panduan pembelajaran MateriPengurangan Resiko Bencana untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Yogyakarta: ABS, 2002. Daryanto S.S, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998. Dedikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998. Fakih, Mansour. “PanggilAku Difabel” dalam Eko Prasetyo dan Fitria Agustina, Jalan Lain Manifesto IntelektualOrganik Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2003. Himpunan Peraturan Perundang­Undangan Penyandang Cacat Nasional dan Internasional, Jakarta Himpunan Wanita penyandang cacat Indonesia,2001. Maftuhin, Arif. “Aksesibilitas Ibadah Bagi Difabel: Studi atas Empat Masjid di Yogyakarta”, Inklusi, Vol. 1, No. 2, Desember 2014. Muhibbin Syah, Psikologi belajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005. Nugroho, Sapto dkk. “Meretas Siklus Kecacatan Realitas Yang Terabaikan”Surakarta: Yayasan Talenta , 2004.. Ro’fah.dkk, Membangun Kampus Inklusi, Yogyakarta: PSLD, 2010. Suryono Sukanto, Sosiologi: Suatu Pengantar Jakarta: Rineka Cipta, 1992. Erina, dalam http://etheses.uin-malang.ac.id/2116/6/08410055_ Bab_2.pdfdiakses tanggal 23/12/2015. Ferry Apriyadi, dalam http://eprints.ums.ac.id/12360/2/04._ BAB_II.pdf diakses 13/12/2016 Markum, dalam http://www.psychologymania.com/2013/02/ faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html, diakses 27/2/2016




Copyright (c) 2017 Neni Rosita