PRODADISA “Program Pemberdayaan Difabel Daksa” menuju Percontohan BKD (Balai Kerja Difabel) untuk Meningkatkan Kemandirian dan Life Skill Difabel

Siti Aminah,1* Jamil Suprihatiningrum,2 Astri Hanjarwati3

   1 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga
   2 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga
   3 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga
   * Corresponding Author

DOI: https://doi.org/10.14421/ijds.2209

Abstract


Jumlah difabel daksa di kabupaten Bantul termasuk dalam kategori tinggi dibandingkan daerah lain, terutama pascagempa tahun 2006. Meskipun pemerintah telah memperhatikan keberlanjutan hidup yang layak bagi difabel, namun sampai saat ini, program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah belum memberikan dampak yang signifikan bagi kemandirian dan life skills bagi para difabel daksa. Salah satu lembaga difabel yang berperan dalam program pemberdayaan ini adalah Paguyuban Bangkit Bersama (PBB). Forum ini merupakan wadah dari perwakilan DPO seluruh (17) kecamatan di Kabupaten Bantul. FPDB sudah memiliki berbagai macam kegiatan pemberdayaan, diantaranya pembuatan dan reparasi sepatu roda, kerajinan anyaman bambu, dan pembuatan meja kursi untuk cafe. Sayangnya, FPDB belum memiliki manajemen SDM yang bagus dan tertata rapi, di samping hasil produk dari program pemberdayaan yang sebenarnya sudah layak jual, namun proses pemasaran yang kurang dapat menarik pasar. Oleh karenaitu, melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini akan diusulkan PRODADISA (Program Pemberdayaan Difabel Daksa) yang meliputi kegiatan assessment, kelanjutan program yang diselenggarakan PBB, dan evaluasi program pemberdayaan difabel yang selama ini telah dilakukan oleh PBB bersama pemda kabupaten Bantul. Tujuan PRODADISA adalah untuk: meningkatkan kemampuan difabel daksa anggota PBB dalam hal manajemen SDM; membentuk masyarakat difabel yang mandiri dalam berwirausaha; memberikan pelatihan teknologi informasi kepada anggota FPDB dalam mendukung usahanya; memberikan pelatihan menjahit dan pengembangan produk jahit yang marketable. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah FPDB menjadi percontohan Balai Kerja Difabel (BKD), sehingga sustainability kegiatan dapat terus terjaga.

Keywords


prodadisa; difabel; BKD; kemandirian; life skill

Full Text:

PDF

References


Data Dinas sosial Kabupaten Bantul tahun 2011 Data Dinas Sosial Kabupaten Bantul tahun 2013 Data PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), Dinas Sosial DIY Tahun 2012.

Ife, Jim & Tesoriesro, Frank. (2008). Altenatif pengembangan masyarakat di era globalisasi, community development. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maskur, Fatkhul. (2014). Kementerian Koperasi Gelar Pelatihan Kewirausahaan Penyandang Difabel.Minggu, 09/11/2014 23:30 WIB.http://industri.bisnis.com/ read/20141109/87/271541/kementerian-koperasi-gelarpelatihan-kewirausahaan-penyandang-difabel

Muslim, Aziz. (2012). Dasar­dasar Pengembangan Masyarakat. Yogyakarta: Samudera Biru. Nur, Pamudji. (2012). Empowering PLN, Pemberdayaan Komunitas Difabel. Kompas Regional.com Nurwihastuti, Dwi Wahyuni. (2013). Geomorphological analysis on the earthquake damage pattern: a case study of 2006 earthquake in Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Ro’fah, Andayani, dan Muhrisun. (2010). Inklusi Pada Pendidikan Tinggi­Best Practicies Pembelajaran dan Pelayanan Adaptif bagi Mahasiswa Difabel Netra. Yogyakarta: Pusat Studi Layanan Difabel UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.

Siddiq, Dedi Muhammad. (2007). Mahasiswa Difabel di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pasca UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta-IIS.

Smit, Jan. 2003. Are catastrophes is nature ever evil?

Daa, W.B. Dress (ed), Is Nature ever evil?Religion, science and value. London dan New york: Routledge Taylor dan Francis Group.

Suharto, Edi. (2009). Artikel lepas: Modal Sosial dan Kebijakan Sosial.

Wahyudi, Agus Imam. (2014). Pemberdayaan Difabel Dalam Rangka Pemberian Pengetahuan dan Pelatihan Ketrampilan (Studi di Yayasan Mandiri Craft, Sewon, Cabean, Bantul, Yogyakarta). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.




Copyright (c) 2017 Siti Aminah, Jamil Suprihatiningrum, Astri Hanjarwati