Claiming Abrogation of Pre-Islamic Religions; Contesting the Idea of Islam’s Abrogation to Previous Religions

Sa’dullah Affandy
* Legislative Secretary of NU and Post-graduate lecturer of UNU Indonesia

DOI: https://doi.org/10.14421/esensia.v18i1.1468

Abstract


This paper discusses surah Āli ‘Imrān [3]: 85 that is believed is not the abrogator of surah al-Baqarah [2]: 62. Surah al-Baqarah [2]: 62 is an inclusive ayah that informs the evidence of acknowledgement of the al-Qur’an upon the safety of adherents of religions. All ayahs of the al-Qur’an are the selected revelations that are operative in its nature. In the case of contradiction, they should be contextually understood based on their socio-historical background, as it is stated in its criteria that the abrogation is only enforced upon ayahs on law, and not for informative ayahs (ikhbāriyyah). This research employs a research method mapping the pros and the cons of interpretation using qualitative analysis. In collecting data, this research applies library research of the commentary books from classic to modern-contemporary periods as primary sources with socio-historical approaches. It also incorporates uṣūl fiqh and hermeneutics theories to analyse the text. This research finds out that Islam which is prescribed to the prophet Muhammad cannot abrogate the existence of pre-Islamic religions. The abrogation of religions is conflicted with the reality of the continuity of the Prophet Muhammad’s revelation. Islam is a religion of all prophets, and Islam that is prescribed to the prophet Muhammad is a continuation and a complementary to the legacies from previous religions. The idea of abrogating religions means to ignore part of the rules of an abrogation theory itself. Surah al-Baqarah [2]: 106 is not a base for the abrogation of previous religions. This ayah suggests a supposition, not a necessity of the abrogation.

[Artikel ini mendiskusikan surat Āli ‘Imrān [3]: 85 yang diyakini sebagai ayat yang tidak me-nasakh surat al-Baqarah [2]: 62. Surah al-Baqarah [2]: 62 adalah ayat inklusif yang menginformasikan bukti pengakuan dari al-Qur’an atas keselamatan penganut agama-agama. Semua ayat al-Qur ’an adalah wahyu yang dipilih yang beroperasi sesuai sifatnya. Dalam  kasus kontradiksi, mereka harus dipahami secara kontekstual berdasarkan latar belakang sosio-historisnya, seperti yang dinyatakan dalam kriterianya bahwa abrogasi (nasakh) hanya diberlakukan pada ayat-ayat hukum, dan bukan untuk ayat-ayat informatif (ikhbāriyyah). Penelitian ini menggunakan metode penelitian pemetaan pro dan kontra penafsiran dengan menggunakan analisis kualitatif. Dalam mengumpulkan data, ia menggunakan penelitian kepustakaan dari beberapa kitab tafsir dari masa klasik hingga periode modern kontemporer, sebagai sumber utama dengan pendekatan sosio-historis. Ini juga menggabungkan teori ushul fiqh dan hermeneutika untuk menganalisis teks. Penelitian ini menemukan bahwa Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad tidak dapat me-nasakh/membatalkan keberadaan agama pra-Islam. Pembatalan agama bertentangan dengan realitas kontinuitas wahyu Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama semua nabi, dan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah kelanjutan dan pelengkap warisan dari agama-agama sebelumnya. Gagasan untuk membatalkan agama berarti mengabaikan sebagian dari aturan dari teori abrogasi/nasakh itu sendiri. Surah al-Baqarah [2]: 106 bukanlah dasar untuk pembatalan agama- agama sebelumnya. Ia menunjukkan sebuah dugaan, bukan keniscayaan pembatalan.]


Keywords


Āli ‘Imrān [3]: 85; al-Baqarah [2]: 106; the notion of abrogation of pre-Islamic reilgions

Full Text:

PDF

References


Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā’īl ibn Ibrāhīm, al-. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.Beirut: Dār al-Fikr.

Dirks, Jerald F. Abrahamic Faiths: Titik Temu dan Titik Seteru antara Islam, Kristen, dan Yahudi (Jakarta: Serambi, 2006)

Esack, Farid. “Review Qur`an, Liberation, and Pluralism,” in Journal of Islamic Studies Vol. 10, No. 1, (1999).

Firestone, Reuven. “The Evolution of the Abraham-Ishmael Legends in Islamic Exegesis” in Journeys in Holy Lands. New York: SUNY Press, 1990.

Grose, George B. & Benyamin J. Hubbard, “The Abraham Connection: A Jew Christian and Muslim in Dialog (book review),” inJournal of Ecumenical Studies, Vol. 33, No. 3, (Summer, 1996).

Guenon, Rene (ed.) James R. Wetmore. The Crisis of the Modern World Collected Works of Rene Guenon. London: Sophia Perennis, 2001.

Ibn Ḥanbal, Abū Abdillah Aḥmad. Musnad al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (ttp., al-Risālah, 2001.

Ibn Kaṡīr, ’Imād al-Dīn Abū al-Fidā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-ẓīm (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Arabiyya, 1998.

Ismā’īl, Sya’bān Muḥammad. Naẓariyyah al- Naskh fī al-Syarāi’ al-Samāwiyah. Cairo: Dār al-Salām, 1988.

Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.

Riyadi, Hendar. Melampaui Pluralisme, Etika Al- Qur’an tentang Keragaman Agama, Jakarta: RMBooks, Cet. I, 2007.

Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog Antar Agama, Studi atas Pemikiran Mohammad Arkoen (Yogyakarta: Yayasan Bintang Budaya, Cet. 1, 2000.

Schuon, Frithjof. “The Problem of Sexuality,” in Studies in Comparative Religion, Vol. 11, No. 1. (Winter, 1977).

---------------. “Paradoxical Aspects of Sufism,” in Studies in Comparative Religion, Vol. 12, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1978).

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994.

Sirodj, Said Aqil. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, bukan Aspirasi, Bandung: Mizan, Cet. I, 2006.

Ṭabārī, Muḥammad ibn Jarīr ibn Yazīd Abū Ja’far, al-. Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Mesir: Dār al-Ma’arif, 2000.

Ṭabāṭabā’ī, Muhammad Husein, al-. al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al- A’lamī li al-Maṭbū’āt, 2006.

Ṭanṭāwī, Muhammad Sayyid, al-. Hāżā Huwa al-Islām, fī Ḍaw-i Hadīṡ Jibrīl. Cairo: al-Azhar al-Syarīf, Silsilah al-Buḥūṡ al-Islāmiyyah, 2003).

Waadenburg, Jacques. “Toward a Periodization of earliest Islam According to Its Relation with Other Religions” in Proceedings of de Ninth Congress of the Union Europiȇene des Arabisants et Islamisants. Leiden: EJ. Brill, 1981.

Wadud, Amina. Qur’an and Woman, (terj.) Khoiruddin Nasution, Qur’an menurut Perempuan;Membaca Kembali al-Qur’an dengan Semangat Keadilan (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006).

Whitehead, Alfred North. Religion in the Marking, edisi Indonesia, Mencari Tuhan Sepanjang Zaman. (terj.) Alouis Agus Nugroho (Bandung: Mizan, 2009).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin

ISSN 1411-3775  |   E-ISSN 2548-4729

Accredited by Director General of Research and Development Research and Development of the Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia. Decree No: 36a/E/KPT/2016

Creative Commons License

This work is licensed under
a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).