Kohesi Sosial pada Komunitas Jamaah Sapta Dharma di Taman Siswa Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.14421/jm.2025.51.02Keywords:
Mechanical Solidarity, Social Cohesion, Sapta Dharma, Local Belief Systems, Sociology of ReligionAbstract
This study examines how Émile Durkheim’s concept of mechanical solidarity is manifested in the daily life of the Sapta Dharma community in Taman Siswa, Yogyakarta. Situated within Indonesia’s plural social landscape and the marginal position often experienced by non–state-recognized belief groups, the Sapta Dharma community represents a social collective that sustains its existence through strong internal cohesion. Using Durkheim’s framework, the analysis focuses on four key indicators of mechanical solidarity: shared spiritual values, commitment to tradition and ancestral heritage, a simple and egalitarian division of labor, and the application of repressive or corrective responses to norm deviations. The findings indicate that social cohesion within the Sapta Dharma community is not based on functional interdependence or specialized roles characteristic of organic solidarity. Instead, it is grounded in shared beliefs, collective spiritual experiences, and a strong collective consciousness centered on core teachings such as the Wahyu Panca Gaib. Solidarity is reinforced through routine ritual practices, reverence toward the founder, and a communal way of life oriented toward inner harmony and Javanese spiritual values. The absence of rigid hierarchy and the equitable distribution of communal responsibilities further strengthen feelings of mutual cooperation and belonging.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teori kohesi sosial Émile Durkheim, khususnya konsep solidaritas mekanik, termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari komunitas Sapta Dharma di Taman Siswa, Yogyakarta. Dalam konteks keberagaman sosial Indonesia serta tantangan yang dihadapi kelompok penghayat kepercayaan di luar agama yang diakui negara, komunitas ini merepresentasikan kelompok sosial yang mampu mempertahankan eksistensinya melalui kohesi internal yang kuat. Analisis difokuskan pada empat indikator utama solidaritas mekanik, yaitu kesamaan nilai spiritual, keterikatan pada tradisi dan warisan leluhur, pembagian kerja yang sederhana dan egaliter, serta mekanisme penanganan penyimpangan terhadap norma komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial dalam komunitas Sapta Dharma tidak dibangun atas dasar kontrak fungsional atau spesialisasi peran sebagaimana dalam solidaritas organik, melainkan bertumpu pada kesamaan keyakinan, pengalaman spiritual kolektif, dan kesadaran kolektif yang kuat, terutama yang berpusat pada ajaran inti Sapta Dharma seperti Wahyu Panca Gaib. Ikatan antaranggota diperkuat melalui praktik ritual yang berkelanjutan, penghormatan terhadap pendiri, serta orientasi hidup yang menekankan harmoni batin dan spiritualitas Jawa. Ketiadaan hierarki formal dan pembagian tugas yang setara mendorong tumbuhnya semangat gotong royong dan rasa memiliki bersama. Penyimpangan norma tidak ditangani melalui sanksi formal, melainkan melalui pendekatan simbolik dan upaya pemulihan harmoni sosial. Temuan ini menegaskan bahwa solidaritas mekanik berfungsi sebagai mekanisme ketahanan sosial yang efektif dalam menghadapi tekanan eksternal seperti stigma dan diskriminasi, sekaligus memperkuat identitas kolektif komunitas penghayat kepercayaan di Indonesia.
Abstract viewed: 42 times
|
pdf downloaded = 13 times
References
Arifin, Nur. “Motif Bergabung dalam Aliran Sapta Darma: Studi Kasus Sanggar Agung Candi Sapta Rengga Yogyakarta.” Jurnal Sosiologi Agama 12, no. 1 (2021): 45–62.
Dzaky, Hidayatullah. Konsep Ketuhanan dalam Ajaran Sapta Darma. Diploma Thesis, UIN Raden Intan Lampung, 2021.
Durkheim, Émile. Suicide: A Study in Sociology. Translated by John A. Spaulding and George Simpson. New York: Free Press, 1951.
———. The Division of Labour in Society. Translated by W. D. Halls. New York: Free Press, 1997.
———. The Elementary Forms of Religious Life. Translated by Karen E. Fields. New York: Free Press, 1995.
———. The Rules of Sociological Method. Translated by W. D. Halls. New York: Free Press, 1982.
Fadhilah, Yusri. “Sanksi Sosial dalam Komunitas Kepercayaan di Indonesia.” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 25, no. 1 (2024).
Lukes, Steven. Émile Durkheim: His Life and Work. London: Penguin Books, 1975.
Marx, Karl. A Contribution to the Critique of Political Economy. New York: International Publishers, 1970.
Mawaza, Jayyidan Falakhi, and Rohit Mahatir Manese. “Pengikut Sapta Dharma dalam Pluralitas Terbatas: Studi Sosial Keagamaan.” Palita: Journal of Social Religion Research 7, no. 2 (2023): 145–160.
Rahman, Aulia, and Siti Hanifah. “Kohesi Sosial dan Ketahanan Komunitas Keagamaan: Analisis dengan Kerangka Solidaritas Mekanik Durkheim.” Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin and Islamic Thought, and Muslim Societies 4, no. 2 (2024): 77–94.
Rahmah, Aulia. “Strategi Sosial Komunitas Penghayat dalam Menjaga Kohesi.” Jurnal Sosiologi Reflektif 19, no. 2 (2023): 56–64.
Ridwan, M. Fahmi. “Identitas Kolektif dan Ritual Lokal dalam Masyarakat Kepercayaan di Indonesia.” Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin and Islamic Thought, and Muslim Societies 4, no. 2 (2024): 133–150.
Santoso, Bero, dan Oksiana Jatiningsih. “Respon Masyarakat Jemur Wonosari terhadap Sanggar Candi Busana Sapta Dharma Ditinjau dari Sikap Multikultural.” Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan 10, no. 1 (2022): 89–104.
Setiyawan, Andreas Eerry, Irenius Nggajo, dan Dominikus Mario Dola Sesar. “Paham Ketuhanan dalam Tata Peribadatan Sujud dan Racut Kepercayaan Sapta Dharma.” Prosiding Seminar Nasional Universitas Sanata Dharma 3 (2024): 201–214.
Sudarma, I Wayan, dkk. Eksistensi Penghayat Kepercayaan Sapta Dharma di Provinsi Bali. Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, 2021.
Suryadi, Dimas. “Musyawarah dalam Komunitas Kepercayaan: Studi Etnografi pada Sapta Dharma.” Jurnal Antropologi Indonesia 44, no. 2 (2023).
Suryanto, Dwi. “Konstruksi Identitas Kolektif Komunitas Kepercayaan.” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 8, no. 2 (2019).
———. “Konstruksi Identitas Kolektif Komunitas Kepercayaan: Studi pada Jamaah Sapta Dharma di Yogyakarta.” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 8, no. 2 (2019).
Syamsul, Nurdin. “Solidaritas Sosial dalam Perspektif Durkheim.” Jurnal Sosiologi Reflektif 13, no. 1 (2019).
Ulumiyah, Karina Hidayatul. Tradisi Perkawinan Penghayat Kepercayaan Sapta Darma di Surabaya. Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2020.
Wawancara dengan R. Sugiyanto, Sesepuh Sapta Dharma Taman Siswa, 15 Mei 2025.
Wawancara dengan Sri Harjono, Jamaah Sapta Dharma Taman Siswa, 2 Juni 2024.
Yuwono, Sutrisno. Wahyu Panca Gaib: Intisari Ajaran Sapta Dharma. Yogyakarta: Lembaga Penerbitan Sapta Dharma, 2012.
———. Wahyu Panca Gaib: Intisari Ajaran Sapta Dharma. Yogyakarta: Lembaga Penerbitan Sapta Dharma, 2012.
Saputra, Aditya Apriawan, dan Ega Mustika. “Kajian Kepercayaan Sapta Darma serta Pandangan Masyarakat dalam Perspektif Sosial-Budaya.” SOSEARCH: Social Science Educational Research 5, no. 2 (2022): 112–128.
Suwandi, Ahmad. “Komunitas Kepercayaan dan Resistensi Budaya terhadap Agama Formal.” Jurnal Religi dan Budaya 14, no. 2 (2021).
Faizal, Muhammad. “Sakralisasi Tradisi Jawa dalam Komunitas Kepercayaan.” Jurnal Antropologi Indonesia 43, no. 1 (2022).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


